Asyiknya Bermain Slime

Asyiknya Bermain Slime

Daun-daun bergoyang pada rantingnya, diterpa oleh hembusan angin yang semilir. Sinar mentari cerah menembus di antara celah-celah dedaunan. Pagi itu, hari Minggu tanggal 23 Oktober 2016, Komunitas Jendela mengadakan kegiatan di Rubaku. Para Jendelist (sebutan relawan Komunitas Jendela) yang penuh cinta, antusias, dan hati gembira berbagi kebahagiaan bersama anak-anak di Rubaku dengan bermain bersama.

Pagi itu sekitar pukul 9 pagi, para Jendelist sudah sampai di lokasi. Sampai di lokasi mereka sudah disambut oleh beberapa anak-anak yang sudah menunggu. Jendelist yang sebagian besar merupakan Jendelist baru ini, kemudian saling berkenalan dengan anak-anak. Mereka berkenalan nama dan menyebutkan kelas mereka. Dengan dibumbui sedikit candaan, akhirnya para Jendelist sudah kenal dengan anak-anak.

Setelah saling berkenalan, kemudian salah satu Jendelist membuka kegiatan pagi itu. Kegiatan dibuka dengan salam, kemudian Jendelist tersebut (yang kebetulan adalah mahasiswa Pendidikan Seni Tari) mengajarkan gerakan-gerakan kecil untuk memacu motorik anak. Baik motorik kasar maupun motorik halusnya. Anak-anak diajak untuk berlatih konsentrasi dan secara tidak langsung Jendelist tersebut berusaha memengaruhi anak agar selalu antusias dalam mengikuti kegiatan.

Rubaku Yogyakarta, 23 Oktober 2016. Anak-anak sedang melakukan salah satu rangkaian pemanasan untuk melatih kemampuan motorik dan konsentrasi.

Rubaku Yogyakarta, 23 Oktober 2016. Anak-anak sedang melakukan salah satu rangkaian pemanasan untuk melatih kemampuan motorik dan konsentrasi.

Tibalah selanjutnya pada kegiatan inti pada kegiatan mingguan pagi itu, yaitu praktikum membuat Slime. Mula-mula sang instruktur dari Jendelist yang bernama Kak Firdan, memberi tahu apa itu slime, dan menanyakan kepada anak-anak apakah sudah mengetahui tentang slime. Sebagian anak-anak ada yang menjawab sudah tahu apa itu slime, tapi mereka belum tahu cara membuatnya. Kak Firdan kemudian mengajari cara membuat slime, mulai dari menjelaskan bahan-bahan apa saja yang diperlukan, takaran, dan cara membuatnya.

Jendelist membagikan bahan-bahan slime yaitu lem putih, sabun cair, gom, dan pewarna kepada anak-anak.

Jendelist membagikan bahan-bahan slime yaitu lem putih, sabun cair, gom, dan pewarna kepada anak-anak.

Kak Firdan kemudian memberikan bahan-bahan untuk membuat slime kepada anak-anak. Bahan-bahan tersebut yaitu lem putih, sabun cair, gom, dan pewarna. Anak-anak mulanya diberi wadah kecil, kemudian Jendelist menuangkan dan memberi bahan-bahan tadi kepada anak-anak. Bahan-bahan yang dituangkan urutannya adalah sebagai berikut : lem secukupnya (sesuai ukuran wadah), sabun cair dengan takaran setengah dari takaran lem, gom 5 tetes. Kemudian bahan-bahan tesebut diaduk sampai rata, sehingga bahan-bahan tersebut menjadi kenyal. Apabila sudah kenyal dan tidak lengket, selanjutnya diberi pewarna kemudian diratakan. Dan jadilah SLIME.

Seorang anak meratakan pewarna kuning ke adonan slime-nya .

Seorang anak meratakan pewarna kuning ke adonan slime-nya .

Setelah slime jadi, terlihat kegembiraan tampak pada raut wajah anak-anak. Mereka sangat gembira karena berhasil membuat slime, sebuah mainan dengan tekstur kenyal yang bisa dimain-mainkan dengan ditarik ulur tarik ulur. Kalau pada awalnya praktikum tadi takaran slime diberikan oleh Jendelist, selanjutnya anak-anak praktik sendiri membuat slime tapi masih diawasi dalam penggunaan bahan-bahannya oleh kakak-kakak Jendelist. Seperti penggunaan bahan gom, kakak Jendelist lah yang memberikan takarannya. Ada kejadian yang cukup unik, yaitu ada seorang anak laki-laki yang sedikit usil meminta sedikit demi sedikit dari slime yang dimiliki temannya untuk kemudian disatukan dan menjadi sebuah slime dengan ukuran yang sangat besar.

untitled-1

Anak-anak memainkan slime sesuai kehendak dan imajinasi mereka masing-masing.

Anak-anak memainkan slime sesuai kehendak dan imajinasi mereka.

Anak-anak terus bermain dengan slime yang mereka buat, mereka tertawa-tawa, memainkan slime nya untuk dijadikan berbagai bentuk, ada yang dibuat bentuk seperti tali yang panjang, bahkan mereka yang laki-laki saling berlomba membuat slime sepanjang-panjangnya. Siapa yang lebih panjang, dialah yang menang. Begitulah kegembiraan yang tampak dari wajah anak-anak yang masih polos. Kemudian setelah kakak-kakak Jendelist merasa anak-anak sudah puas bermain, kakak-kakak Jendelist pamit dan menutup kegiatan di hari Minggu yang cerah itu.

Seorang anak membentuk segumpal slime yang besar dari kumpulan slime teman-temannya.

Seorang anak membentuk segumpal slime yang besar dari kumpulan slime teman-temannya.

“Haiii..., slime... slime....”

“Haiii…, slime… slime….”

Kegiatan ditutup dengan berfoto bersama sambil memamerkan slime hasil praktikumnya, kemudian berdoa dengan dipimpin oleh salah satu kakak Jendelist. Setelah berdoa kemudian anak-anak saling bersalaman dengan kakak-kakak Jendelist. Akhirnya kakak-kakak Jendelist meninggalkan tempat tersebut. Masa anak-anak memang masa tumbuh berkembang yang kreativitasnya harus selalu diasah. Semoga anak-anak tersebut menjadi generasi penerus bangsa yang berguna bagi bangsa dan negara.

Sampai jumpa lagi....

“Sampai jumpa lagi….”

 

Oleh : Fan Naa Na Muhammad

 

 

Leave a Reply

ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.
ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.