Ber-Jendela di Sini, Ber-Jendela di Sana

[Quote of the day]

“Mimpi yang luhur selalu berpeluang tumbuh subur di tanah di mana ia tertabur dan membaur”

***

Saya termasuk orang yang curiga keanggotaan Jendela itu berlangsung selamanya. Tidak seperti status keanggotaan karyawan di sebuah perusahaan, apalagi seperti status seorang pejabat di lembaga pemerintahan. Jika karyawan atau pejabat itu berhenti, diberhentikan, atau masa jabatannya habis, maka sudah, ia berhenti. Pada fase ini karyawan maupun pejabat tersebut mengenang status keanggotaan mereka disertai embel-embel “mantan”. Waduh, mantan. Sesuatu yang tak terjangkau karena perbedaan dimensi waktu. Antara masa kini, dan masa lalu. Aih, masa lalu….

Saya selalu curiga Jendela itu berbeda. Bagaimana tidak. Motif keanggotaannya saja sudah berbeda. Seorang karyawan bekerja di perusahaan didorong oleh motif ekonomi. Ia butuh makan dan membiayai hidup. Ketika perusahaan itu tak lagi mewadahinya mencari nafkah, mudah saja baginya untuk berhenti bekerja di sana. Sementara pejabat beroperasi di lembaga pemerintahan didorong oleh motif tanggung jawab (eh atau ekonomi juga ya?). Ia harus bekerja selama periode tertentu karena rakyat telah menanggungkan kepadanya amanah. Amanah itu digilir dari satu “pejabat pilihan” ke “pejabat pilihan” yang lain. Dari satu periode amanah ke periode amanah yang lain. Nah, kalau relawan Jendela bagaimana? Sebentar, hehe, mikir dulu.

Begini saja, bisakah kita anggap alasan orang menjadi relawan Jendela adalah motif ekonomi? Sepertinya tergantung. Jika upaya mendapat traktiran di Angkringan Pak Wakino termasuk kegiatan ekonomi, maka bisa jadi. Tapi kok saya ragu ada relawan yang bergabung ke Jendela supaya bisa sering dapat traktiran. Pasalnya, ditraktir di Angkringan Pak Wakino itu ibarat peristiwa komet Halley, hanya terjadi 76 tahun sekali. Lantas, apakah orang bergabung ke Jendela karena diberikan tanggung jawab bagaikan amanah rakyat kepada pejabat? Atau apakah orang bergabung ke Jendela supaya dapat jodoh? Wah haha. Mari sejenak kita sisihkan dulu beraneka motivasi pribadi dalam tulisan ini. Mari fokus ke tujuan komunal Komunitas Jendela, hehe. Kembali ke topik tanggung jawab. Apakah orang bergabung ke Jendela karena diberikan tanggung jawab layaknya amanah rakyat kepada pejabat? Sepertinya bukan. Bukan diberikan. Karena nyatanya tak ada pihak yang memberikan. Sebaliknya, bisa jadi karena mereka merasa “sudah dari sananya” mendapatkan tanggung jawab. Terdengar ganjil ya? Mungkin mereka sejenis kaum penjunjung petuah bijak Paman Ben-nya Spider Man (yang konon lebih dulu dikatakan oleh Voltaire) : “With great power, comes great responsibility.” Bersama kekuatan besar, datang tanggung jawab besar. Saya pikir ini jenis tanggung jawab yang berbeda. Bahwa tak ada yang bisa mencerabut tanggung jawab jenis ini dari jiwa tuannya, kecuali si tuan itu sendiri.

Tapi, bagaimana ya mengatakannya. Walau bagaimana pun, Jendelist itu hidup di dunia di mana berbagai atribut realita berdaya mengisi beraneka ruang kemungkinan. Aih, ngomong apa lah ini.

Singkatnya, saya lebih suka membayangkan Komunitas Jendela itu seperti tetumbuhan ber-spora, misalnya tumbuhan paku. Konon, ketika mencapai suatu fase bernama fase sporofit, tumbuhan paku menghasilkan butiran spora di daun-daunnya. Suatu kali ketika angin berhembus atau seekor serangga hinggap, spora-spora itu bisa ikut terbawa menuju entah kemana. Nasib bisa menghendaki spora-spora itu tertabur ke tanah. Lalu tumbuh menjadi tumbuhan paku yang baru. Sebagaimana kisah itu para Jendelist pun menghadapi “angin” mereka sendiri-sendiri. Bagi mereka angin yang meniup spora adalah angin bernama “kenyataan hidup”. Angin bisa bertiup kapan saja membawa mereka jauh dari komunitas mereka yang lama. Tetapi cita-cita selalu bisa digiatkan kembali. Mimpi yang luhur selalu berpeluang tumbuh subur di tanah di mana ia tertabur dan membaur. Semoga.

Akhirnya, bernapaslah. Hari baru telah tiba.

 

Oleh : Teguh Arya P

Leave a Reply