“Biasa saja” namun “tidak biasa”

Judul buku : Sekolah Biasa Saja

Penulis : Toto Rahardjo

Penerbit : Progress

Tahun terbit : 2014

 

Dunia pendidikan di Indonesia seakan tak pernah berhenti menampakkan wajah buram nya, lebam di sekitar kanan-kiri nya diremukkan oleh kepentingan yang merajainya.  Bukan saja timbul pertanyaan “akan kemana arah pendidikan di Indonesia?”, yang sepertinya pertanyaan yang begitu sudah cukup usang, karena  baru-baru ini kita perlu bertanya lebih ke dalam diri kita sendiri dengan pertanyaan “benarkah kita sudah bersungguh-sungguh sebagai suatu bangsa?”. Namun, sepertinya yang “hitam” tidak selalu gelap, ada cahaya yang bersembunyi di baliknya, cahaya yang selalu menawarkan harapan baru.

Yang tersebut itu tampak setelah saya membaca buku yang berjudul “Sekolah Biasa Saja” karya Bapak Toto Rahardjo. Beliau yang merupakan aktivis pendidikan, ternyata sudah menawarkan sesuatu yang baru untuk pendidikan di Indonesia. Yaitu sekolah yang berbeda dari sekolah yang pada umumnya ada di Indonesia. Buku “Sekolah Biasa Saja” memaparkan bagaimana pendidikan berdasarkan idealita kemanusiaan dan menunjukkan bagaimana kegiatan itu berlangsung, seperti yang dilakukan oleh bapak Toto Rahardjo dengan mendirikan Sanggar Anak Alam. Bagi Sanggar Anak Alam, sekolah itu ya alami. Mengalir sesuai dengan apa yang ada pada diri si anak. Bukan sesuatu yang diada-adakan, yang justru malah menyandera atau bahkan mematikan kreatifitas anak. Alami yang dimaksud tidak hanya perkara letak nya yang di sekitar alam (di tengah sawah), namun karena anak-anak belajar dari lingkungan di sekitar nya, alamiah; baik sosial, budaya, dan alam itu sendiri. Keluarga dan masyarakat sekitar pun juga tak luput untuk berperan dalam perkembangan sang anak. Hal tersebut juga disadari pak Toto Rahardjo. Beliau sengaja meletakkan bangunan Sanggar Anak Alam di tengah-tengah sawah yang dekat dengan aktivitas masyarakat, dengan tanpa memasang pagar yang dapat membatasi  interaksi antara siswa dan warga sekitar. Sebenarnya pendekatan pembelajaran Sanggar Anak Alam hampir sama dengan pendekatan scientific yang diberlakukan pemerintah dalam kurikulum 2013. Walaupun semangat yang dibawa pendekatan scientific dalam kurikulum 2013 adalah hal baru yang mungkin saja membawa efek yang baik, Pemerintah Indonesia sepertinya masih setengah hati untuk merealisasikan hal tersebut.

Buku ini juga dipaparkan bagaimana saat ini dunia pendidikan telah menjadi ajang pencarian keuntungan materi, menjadi komoditas, yang semuanya itu berorientasi pada materi. Seolah-olah untuk mendapatkan pendidikan yang baik atau layak, diperlukan biaya yang mahal. Sekolah-sekolah pun berlomba untuk menjadi “yang mahal” tersebut dengan menawarkan berbagai macam fasilitas. Sehingga banyak orang tua dari murid yang menganggap anak-anak mereka butuh fasilitas yang bergelimang untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Hal tersebut pula lah yang menjadikan sekolah sebagai ukuran dalam status sosial. Semakin orang tua mampu menyekolahkan anak nya di tempat yang mahal, semakin bertambah tinggi pula pandangan umum terhadap status sosial suatu keluarga. Padahal kesemua itu semu, bukan hal yang sebenarnya diperlukan anak-anak untuk tumbuh dan berkembang sebagai manusia yang utuh. `

Buku “Sekolah Biasa Saja”mengenalkan seperti apa pendidikan yang seharusnya dilakoni oleh anak. Pendidikan yang menempatkan anak ke dalam situasi-situasi yang menyokongnya, bukan mengekangnya. Pendidikan yang menempatkan anak sebagai subjek, bukan sebagai objek. Eksponen dari semangat pendidikan yang sebenarnya telah lama di-idealkan oleh Bapak Pendidikan Indonesia, namun sayang, arus zaman menggerusnya hingga sedalam-dalam nya.

 

Resensi oleh BoyAdisakti

Leave a Reply

ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.
ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.