Judul asli: The Moneyless Man, A Year Freeconomic Living

Judul: The Moneyless Man, Kisah Nyata Setahun Hidup Tanpa Uang

Penulis: Mark Boyle

Penerjemah: Rahmani Astuti

Penerbit: Serambi

Tebal: 349

 

“Jadilah perubahan yang ingin kau lihat di dunia, tidak peduli apakah kau termasuk kelompok minoritas yang hanya terdiri dari satu orang atau mayoritas jutaan orang”.

Kalimat Gandhi di atas mengiang di kepala Mark Boyle, terus menerus. Lelaki ini ingin menggunakan pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya agar bisa memberi manfaat sosial yang positif bagi banyak orang. Namun ia sendiri tak tahu caranya. Sampai suatu saat sebuah gagasan yang cukup gila muncul di kepalanya. Pengalamannya sebagai manajer di perusahaan organik memberinya sebuah ide. Ide itu adalah setahun hidup tanpa uang.

Keputusan Mark untuk melakukan eksperimen setahun hidup tanpa uang dilatarbelakangi oleh keprihatinannya terhadap hal-hal berikut ini:

  1. Hilangnya kerjasama dan sikap belas kasih sesama warga. Dahulu, atau di tempat-tempat di mana uang dianggap tak penting, budaya kerjasama dan tolong menolong masih ada di beberapa bagian. Sifat-sifat ini memberikan rasa nyaman di antara mereka. Sebaliknya, di tempat di mana uang diperebutkan, maka pencarian uang dan keinginan manusia untuk memiliki uang yang tidak terpuaskan mendorong manusia untuk bersaing satu sama lain dalam usaha untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Sehingga, tidak ada lagi orang mau membantu tetangganya atau temannya atau bekerja tanpa dibayar. Inilah yang perlahan menyebabkan munculnya keterasingan sehingga mengakibatkan naiknya angka bunuh diri, penyakit mental, dan sikap anti sosial.
  2. Masalah-masalah lingkungan seperti penipisan sumber daya alam dan krisis iklim.

Sebelum memulai eksperimennya, Mark telah mempersiapkan segalanya dengan matang. Ia mempersiapkan rumah hunian ramah lingkungan yang akan menjadi tempat tinggalnya. Makanan yang ia makan, yang ia peroleh dari menanam sendiri ataupun mendapatkan makanan sisa dari toko tanpa membeli. Dan transportasi sehari-hari yang ia gunakan. Apa yang dilakukan Mark tak lepas dari motivasi utamanya, yaitu ia merasa lelah menyaksikan kerusakan lingkungan yang terjadi setiap hari dan ia memainkan peranan di dalamnya.

“Aku menginginkan masyarakat, bukan konflik. Aku menginginkan persahabatan, bukan perkelahian. Aku ingin melihat orang-orang berdamai dengan planet ini, dengan diri kita sendiri, dan semua species lain yang menghuninya.” (halaman 35)

Alih-alih membicarakannya sebagai sesuatu yang abstrak, Mark memilih untuk terjun mempraktekkannya. “Aku percaya bahwa semakin sedikit perbedaan yang ada antara kepala, hati, dan tangan, semakin dekat kita pada kehidupan yang jujur. Bagiku rohani dan jasmani adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama.” (halaman 34)

Musim dingin dirasa Mark adalah masa-masa sulit untuk menjalani kehidupan tanpa uang. Musim panas adalah saat-saat yang paling menyenangkan. Pada musim panas berbagai jenis tanaman dapat mudah ditemui. Ia bersepeda, berkemah, memulung makanan dari tempat sampah. Mengumpulkan barang-barang yang masih bisa digunakan dan kemudian membaginya kepada mereka yang membutuhkan. Oya, di Eropa, di supermarket, satu-satunya alasan makanan perlu dibuang adalah karena tanggal yang tertera di atas kemasan. Makanan itu sebenarnya masih layak dikonsumsi, tetapi perusahaan harus bekerja sesuai dengan hukum. Oleh karena itulah barang-barang ini kemudian akan menjadi penghuni tong sampah. Makanan-makanan seperti inilah yang dipungut oleh Mark dan teman-temannya.

Membaca buku ini membuka kita pada petualangan yang sarat dengan pengetahuan. Diselipi oleh berbagai macam pengetahuan baru yang memesona, seperti: cara membuat kompor roket, membuat kertas dan tinta jamur, memilih makanan di alam, membuat obat untuk demam dari alang-alang great plantain, membuat tempat tinggal ramah lingkungan, cara membuat sari apel murni, mendapatkan informasi yang menawarkan barang dengan cuma-cuma, akomodasi gratis sampai bersenang-senang tanpa uang.

Buku yang pasti sangat memikat, tidak hanya bagi para pecinta lingkungan namun bagi kita semua. Melalui buku ini Mark mengajarkan makna menebar budi. “Menebar budi identik dengan memberi secara ikhlas. Alam bekerja berdasarkan prinsip ini: pohon apel memberikan buahnya secara sukarela, tanpa meminta uang tunai atau kartu kredit. Dia hanya memberi, dengan keyakinan bahwa orang yang mengambil manfaat darinya akan menebar benihnya ke ladang yang lebih luas lagi sehingga bisa memberi dunia lebih banyak apel lagi.”

Mark percaya, bahwa “Ketika Anda memberi dengan cuma-cuma, tanpa ada alasan lain kecuali kenyataan bahwa Anda dapat membuat hidup seseorang lebih menyenangkan, tindakan ini akan membangun ikatan, persahabatan, dan pada akhirnya membangun komunitas yang tangguh. Ketika sesuatu dilakukan hanya untuk mendapatkan sesuatu sebagai imbalan, ikatan seperti ini tidak tercipta.” Hubungan seperti inilah yang Mark lakukan melalui pendirian komunitas freecononomic nya. Mark menginginkan persahabatan tumbuh di antara masyarakat setempat melalui tindakan sederhana seperti berbagi dan menyaksikan semangat kebaikan dan semangat memberi lebih dihargai daripada keserakahan.

 

09/02/2015
Cover

Setahun Tanpa Uang? Bisa Kok…

Judul asli: The Moneyless Man, A Year Freeconomic Living Judul: The Moneyless Man, Kisah Nyata Setahun Hidup Tanpa Uang Penulis: Mark Boyle Penerjemah: Rahmani Astuti Penerbit: […]
22/01/2015
cover-sekolah-biasa-saja

“Biasa saja” namun “tidak biasa”

Judul buku : Sekolah Biasa Saja Penulis : Toto Rahardjo Penerbit : Progress Tahun terbit : 2014   Dunia pendidikan di Indonesia seakan tak pernah berhenti […]
19/01/2015
negeri di ujung tanduk

Kepedulian Mengubah Segalanya

Judul : Negeri di Ujung Tanduk Penulis : Tere Liye Penerbit : PT Gramedia Pustaka Ilmu Tahun terbit : 2013     Nasihat Papa tentang Om […]
17/01/2015
negeri-para-bedebah

Apakah benar-benar bedebah?

Judul buku : Negeri Para Bedebah Penulis : Tere Liye Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit : 2012   Sebagian besar orang mengira bahwa […]