Cinta Pertama Anak pada Membaca

Dia adalah bocah yang hobi menonton televisi. Tiada aktivitas yang lebih dicintainya selain menonton televisi dan makan. Oh, mungkin ada satu hal lain, yaitu berpura-pura menjadi Wiro Sableng sembari menyanyikan soundtrack si pendekar Naga Geni 212. “Wiro…Wiro Sablengg….Sinto…Sinto Gendenggg…”

Hingga suatu hari, kakaknya pulang dari kota sebelah. Saat itu si kakak ternyata membawa oleh-oleh untuknya : sebuah buku komik. Di sampul buku itu tertera tulisan yang dicetak cukup besar : “Detektif”. Aduhai, ia takjub dengan judul buku itu yang mengandung kata “detektif”. Terasa asing, tapi gagah. Seperti kali pertama mendengar “Power Rangers”, ia pernah mendengar kata “detektif” dari televisi. Tapi belum tahu apa artinya. Adapun kakaknya menilai komik itu cukup sesuai untuk si bocah. Kebetulan si bocah sedang senang-senangnya dengan segala hal yang beraroma petualangan. Seperti tayangan kesayangannya di televisi. Ia pun sudah cakap memilah mana hal yang pantas dan tidak pantas ditiru.

Sesungguhnya mereka tinggal di kota yang tidak memiliki toko buku. Satu-satunya toko yang mirip toko buku hanya menjual buku pelajaran sekolah dan poster. Di area pertokoan di Pasar Lama (waktu itu menjadi satu-satunya area pertokoan di kotanya) berderet-deret toko elektronik, dealer kendaraan, bank, toko kelontong yang juga menjual mainan anak, toko emas, toko sepatu, dan lebih banyak lagi toko pakaian dengan bangunan dua lantai, tapi tidak ada toko buku. Bila hendak mencari buku, penduduk kota kecil itu harus menempuh perjalanan yang melelahkan ke kota sebelah.

Dengan demikian, itu lah kali pertama si bocah menyentuh buku selain buku pelajaran. Maka, ketika menjumpai buku detektif itu untuk pertama kalinya, si bocah seperti mendapatkan angin segar. Tidak seperti buku tebal kakaknya yang dengan memandangnya saja ia sudah bosan. Buku detektif itu menawarkan dunia baru yang belum pernah ia kunjungi. Pelan tapi pasti, si bocah mulai menjelajahi lembar demi lembar buku itu. Pertama satu bab cerita, keesokan harinya satu bab cerita lagi. Esoknya satu bab lagi. Begitu seterusnya hingga ia mulai membaca dua hingga tiga bab sekaligus dalam satu hari. Kala itu, untuk pertama kalinya si bocah membaca sebuah buku hingga halaman terakhir.  Dan ia menikmatinya.

Dulu sekali, jika orang menanyakan cita-citanya, si bocah akan menjawab : “Ingin menjadi Power Rangers yang menyelamatkan dunia….”. Beberapa waktu berlalu, untuk pertanyaan yang sama setelah menonton serial Kapten Tsubasa, si bocah akan menjawab : “Ingin menjadi pemain sepak bola bernomor punggung 10 dan menjadikan bola sebagai teman.” Beberapa waktu kemudian, setelah ia mengetahui profesi Ayahnya, ia menjawab : “Ingin jadi PNS.” Kini setelah tuntas membaca buku detektif itu, ia menjawab : “Ingin jadi detektif yang mengungkap kasus-kasus korupsi di  Indonesia ! ” Mantap.

Tentu cita-cita menjadi detektif itu hanya berlangsung sementara bagi si bocah. Ia hanya sedang berada pada masa belajar. Masa-masa ingin mengetahui banyak hal tentang semesta. Dan sebagai seorang pembelajar, ia membutuhkan jendela belajar yang luas. Demikian pada masa itu, pasca komik detektif  pertamanya ia berpindah ke komik detektif lainnya. Lalu ke beraneka rupa komik lain. Baik yang didapat dari kota sebelah, rumah teman, maupun tempat penyewaan. Seiring waktu, si bocah pun sampai pada masa ketika komik tak lagi menggugah perasaannya. Tak lagi menjawab rasa ingin tahunya. Ia butuh sesuatu yang lain. Di saat yang sama ia penasaran bagaimana kakaknya bisa betah berlama-lama menekuni buku tebal yang hanya berisi tulisan, tulisan, tulisan, dan tulisan lagi hingga halaman terakhir. Apalagi kakaknya membaca buku itu sambil tertawa dan menangis tiba-tiba. Lantas, suatu hari si kakak mengaku ingin mengejar kembali mimpi-mimpi masa kecilnya. Aih, kok bisa. Kelak si bocah menyadari bahwa sebuah buku ternyata bisa mengubah sikap seseorang.

Seandainya ada hal yang bisa disimak kala itu, barangkali hal itu ialah bahwa momen tersebut merupakan penanda dimulainya kecintaan si bocah pada buku. Jika tak bisa dibilang cinta, sebutlah si bocah telah mendapatkan kesan baik dari pengalamannya membaca buku. Kesan baik membaca satu buku lantas membuatnya penasaran dengan buku-buku lain. Membuatnya bergairah untuk mencari pengalaman dan pengetahuan baru dari beraneka macam buku. Kelak, si bocah menyadari bahwa kebiasaannya membaca ternyata bermula dari sebuah buku komik.

…cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cuma satu buku,” kata Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab. Dan pada hari itu lah si bocah menemukan “satu buku” itu. Ia telah menemukan satu buku yang tanpa ia duga telah membuatnya jatuh cinta pada membaca.

***

Hari itu andaikan si kakak tidak memberikannya buku, barangkali si bocah tetap menjadi bocah yang hanya hobi menonton televisi. Menjadi bocah yang tak pernah punya kesempatan mengenal buku. Pun jika si kakak memaksakan buku tanpa menarik minat si bocah, hasilnya bisa sama buruknya. Tanpa dibarengi minat, membaca buku bisa menjadi pengalaman yang “tak menyenangkan”. Dan pengalaman tak menyenangkan itu bisa saja justru menjauhkan si bocah dari manfaat buku yang sebenarnya. Untungnya si bocah punya keluarga yang membaca buku. Sehingga ia punya kesempatan untuk dipengaruhi kebiasaan di sekitarnya. Sayangnya, kombinasi itu lah yang amat jarang dimiliki anak-anak di Indonesia : kemudahan akses buku dipadu lingkungan yang mendukung budaya baca.

Agaknya komunitas-komunitas pegiat literasi telah menaruh perhatian pada kedua hal tersebut. Apalagi komunitas yang punya misi meningkatkan minat baca anak. Kini komunitas mencoba mempertemukan akses buku dengan lingkungan yang mendukung budaya baca.  Usaha dilancarkan untuk membuat anak-anak bisa meraih buku dengan mudah. Setelah akses buku diperoleh, tantangan selanjutnya ialah bagaimana menyediakan lingkungan yang kondusif. Sebuah lingkungan baca yang menyenangkan, yang membuat anak-anak betah, yang mampu mengarahkan, dan yang mengilhami kesadaran bahwasannya ada banyak hal di semesta ini yang bisa kita pelajari. Sehingga di sana membaca menjadi kebiasaan yang siap ditularkan.

Lantas jikalau akses buku sudah mudah dan lingkungan yang mendukung budaya baca telah tersedia, berikutnya apa?  Hmm, apa ya. Pencarian terhadap metode yang paling tokcer untuk meningkatkan minat baca anak belum juga usai. Dan faktanya setiap anak itu unik. Mungkin, dan hanya mungkin, salah satu upaya yang bisa dicoba ialah membantu anak-anak menemukan “satu buku” itu. Seperti satu buku bagi si bocah tadi.  Satu buku yang akan membuat mereka jatuh cinta,  lalu melaju menyusuri lembar demi lembar makna lainnya.

Oh iya, selamat berjuang meningkatkan minat baca anak !

 

Ditulis oleh Si Bocah

Leave a Reply