IDBUDPARINDO CONFERENCE & EXPO 2013: Saatnya Pemuda Bicara Budaya

1mail.googlegyrf.com1 Mei 2013 – Di hari Sabtu itu, kakak kakak relawan Jendela Jakarta mendapat undangan dari Idbudparindo, yg bertempat di Grand Indonesia, West Mall, level 5. Idbudparindo adalah Ikatan Duta Budaya dan Pariwisata, sebuah organisasi atau perkumpulan duta duta budaya dan pariwisata dari seluruh Indonesia. Acara ini berlangsung 2 hari, di hari Sabtu dan Minggu. Kakak kakak Jendela Jakarta yg datang mewakili di hari Sabtu ada kak Yanti, kak Andi, kak Happy, kak Irham, dan kak Widy.

Acara dimulai sekitar pukul 11 siang. Dibuka dengan press conference, dimana ada beberapa wartawan yang hadir. Lalu Pak Doddy Matondang selaku ketua Idbudparindo memberikan sambutan.  Pak Doddy mengatakan bahwa acara Idbuparindo ini adalah bentuk semangat dan bakti dari para generasi muda dan duta duta budaya untuk ikut memajukan budaya dan pariwisata di Indonesia. Acara ini adalah tahun kedua, dimana pertama kali diadakan yaitu pada tahun 2012. Setelah Pak Doddy selesai memberikan sambutan, lalu acara dilanjutkan dengan penampilan kebudayaan dari beberapa daerah. Ada satu tarian, tapi saya lupa nama dan darimana asalnya, hehehee. Tarian ini terdiri dari 2 orang penari laki laki dan 2 orang penari perempuan, serta satu orang yg memainkan alat musik seperi gendang dengan menggunakan alat pemukul. Gerakan 2 penari perempuan  yang memegang benda yang menyerupai bentuk rumah adat terlihat luwes dengan diiringi irama dari alat musik. Sungguh tarian yang sangat memukau.

Selesai penampilan tarian daerah, kami berkeliling ke stan duta budaya. Ada stan Abang None dari Jakarta, ada stan duta budaya dari daerah Jawa Tengah, stan duta budaya dari Jawa Barat, dan beberapa daerah lain. Bahkan ada stan Cici & Koko, semacam Abang None tapi dari budaya Chinese. Di setiap stan kami mengobrol dengan duta budaya sambil bercerita juga kalau kami dari Komunitas Jendela Jakarta dan saling bertukar informasi. Ternyata banyak sekali potensi wisata dari beberapa daerah yg menarik dan belum banyak diketahui oleh masyarakat. Contohnya saat kami berkunjung ke stan duta budaya Jawa Barat, ada sebuah pulau bernama Pulau Biawak. Pulau ini terletak di Indramayu, memang agak lama untuk menyeberang ke pulau ini dari Indramayu, kalau tidak salah sekitar 7 jam dari Indramayu, dan belum adanya transportasi yg memadai. Sungguh sangat disayangkan jika obyek wisata yg menarik seperti Pulau Biawak kurang mendapat dukungan dan perhatian dari pemerintahnya sendiri.

Sebelum istirahat makan siang, acara dilanjutkan dengan talkshow oleh beberapa bintang tamu. Ada Erwin Arnada, seorang wartawan senior dan sutradara, yang menjelaskan tentang pentingnya budaya. Bahwa pembangunan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari pembangunan karakter setiap individu. Sebagai warga Negara Indonesia kita harus mengenal budaya kita, jangan setelah budaya kita diakui bangsa lain, kita baru berkoar koar. Kenali budaya dimulai dengan hal hal kecil terlebih dahulu, seperti mengunjungi museum dan keliling Indonesia. Bang Erwin juga selalu mengangkat film film yg bertema kebudayaan, karena rasa kegeramannya terhadap acara acara televisi yg minim sekali mengangkat tema budaya. Bang Erwin sudah membuat beberapa film, satu diantara yaitu yg berjudul “Rumah di Seribu Ombak” yg juga bertema budaya.

Pembicara selanjutnya yaitu Angky Yudistia. Mbak Angky adalah seorang penulis dan Duta Tuna Rungu. Dia mengalami tuna rungu sejak usianya menginjak 3 tahun. Mbak Angky sempat depresi dengan keadaan yg dia alami, tetapi dia selalu mendapat dukungan dari keluarga dan teman temannya. Mbak Angky pernah mengikuti Abang None Jakarta, walaupun sempat ragu tapi memberanikan diri berkat dukungan dari kakaknya. Dia selalu berpikir bahwa kita akan menjadi bijak dengan pengalaman yg kita miliki.

Kemudian ada Rieke Caroline, seorang yg mempunyai ketertarikan di bidang budaya, mengenalkan budaya budaya yg ada di Indonesia, juga seorang presenter di salah satu televisi swasta. Mbak Rieke mengembangkan sebuah desa bernama Wayang Village. Di daerah Manyaran, Wonogiri. Di desa Wayang Village ini pengunjung bisa menginap di rumah rumah warga, mengikuti kegiatan yg telah dijadwalkan, seperti melukis wayang, cara membuat wayang, dll.

Lalu ada Mbak Wenny Artha Lugina yg kuliah di China. Dia mengajak mahasiswa disana untuk memakai batik setiap hari jumat. Mbak Wenny juga menulis buku yg berjudul Semut Merah 75, salah satu tulisannya yaitu yg berjudul “Gadis Sunda di Sarang Komunis”. Oya, kak Yanti dapet buku Semut Merah 75 lho dari Mbak Wenny lengkap dengan tanda tangannya. Kak Yanti juga memberi Mbak Wenny pin Jendela Jakarta dan Mbak Wenny langsung memakainya. Kalau penasaran sama buku Semut Merah 75 bisa pinjem ya ke kak Yanti. 😀

Itulah cerita dari kunjungan kakak kakak Jendela Jakarta ke acara Idbudparindo Conference & Expo 2013. Kita jadi tahu betapa pentingnya budaya, mengetahui dan memahami budaya yang kita miliki, begitu pentingnya mengunjungi museum, mengunjungi obyek obyek wisata yg ada di Indonesia, dan tentu saja keliling Indonesia!

Mari sebagai generasi muda saatnya kita bicara tentang budaya.

 

Ditulis oleh kak Andi Perdana

 

 

 

One Response

  1. Andi Perdana 12/06/2013

Leave a Reply

ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.
ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.