Kenapa Menolong Sesama dan Menjadi Relawan: Karena Berlebih, Karena Kurang atau Karena Beruntung?

Ketika saya masih kecil saya sangat dekat dengan kakek saya. Beliau selalu berkata bahwa dunia ini sangat luas dan apa yang ada tidak selalu dapat dilihat dengan mata. Saya dilahirkan di tengah keluarga, yang bisa dibilang berkecukupan, sehingga saya tidak pernah tau yang namanya kelaparan, atau menginginkan barang yang tidak bisa saya dapatkan. Saya beruntung bisa lahir di tengah keluarga yang selalu ingat dimana ia berpijak. Ketika banjir Jakarta tahun 2002, pertama kali saya diajak untuk turun ke lapangan membagikan nasi bungkus oleh kakek saya. Pertama kalinya juga saya melihat orang-orang kelaparan berebut nasi yang kami bagikan. Inilah yang akhirnya membuat saya benar-benar bersyukur atas apa yang saya miliki dalam hidup, termasuk hal sekecil apapun.  Pernah suatu ketika Saya bertanya pada kakek saya, kenapa beliau sering menolong orang bahkan memberi tumpangan pada orang yg baru pertama kali kami temui. Kakek saya cuma menjawab,” Terkadang semua pertanyaan tidak butuh jawaban. Namun, jika kamu butuh jawaban, kakek menolong orang karena kakek merasa apa yang Tuhan beri ke kakek sudah lebih dari cukup, sehingga kakek bisa memberi dengan kelebihan ini. Kakek justru selalu merasa kurang….selalu kurang berbagi kepada sesama. Kakek juga ingin kaya nurani. Terakhir, alasan kakek kenapa berbagi adalah, kakek merasa beruntung jika mendapat ucapan terima kasih yang tulus dari orang lain. Mungkin umur kakek pendek, namun apa yg kakek tabur bisa berumur panjang”. Setelah mendengar itu, ternyata menolong orang lain menjadi sangat simple.

Setelah kakek saya meninggal, akhirnya saya berusaha dengan usaha saya sendiri menolong dan berbagi dengan kapasitas saya. Petualangan menjadi relawan akhirnya dimulai ketika saya masuk SMA, saya ditawari untuk menjadi relawan untuk sebuah panti jompo. Mungkin karena saya cerewet,  sering menceritakan hal-hal remeh, akhirnya banyak nenek atau kakek jadi suka mendengarnya. Saya menemani mereka makan, mendengar cerita masa muda mereka….sesederhana itu. Namun dari situ saya menyadari satu hal, bahwa seperti yang disampaikan kakek saya….<strong>menolong dan berbagi kepada sesama itu menjadi sangat mudah jika semua didasari dengan hati yang tulus.</strong> Kemudian saya juga diajak untuk mengajar pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris bagi anak-anak kurang mampu. Sempat merasa capek dan kesal karena anak-anak itu sangat nakal layaknya anak Tarzan. Namun dari situ saya belajar sabar, dan ternyata belajar sabar bukan sesuatu hal yang buruk untuk dicoba.  Setelah itu saya akhirnya jadi kecanduan untuk menolong sesama.

Suatu ketika, saya bertemu dengan seorang bapak pemulung yang sudah cukup tua. Dia mempunyai istri yang bekerja sebagai buruh cuci. Pasangan tersebut dikaruniai 5 orang anak, namun 3 dari 5 anaknya sakit dan tidak bisa bekerja. Untuk mencukupi hidup sehari-hari,  bapak ini kerja memulung sampah untuk dijual, walaupun hasilnya mungkin tidak banyak. Akhirnya saya menawarkan diri bekerja bersama bapak itu selama seminggu ketika libur. Saya cuma ingin membuktikan, paling tidak ke teman-teman saya, bahwa tidak ada satupun pekerjaan yang harus dipandang sebelah mata, apalagi jika memang kita lakukan dengan bahagia. Baru hari pertama saya bekerja dengan bapak itu, mulai muncul mental breakdown dalam diri saya. Ternyata mengais sampah, memisah-misah antara sampah bisa dijual dan tidak, adalah pekerjaan yang sangat berat. Tidak semudah jika kita lihat hanya langsung mencantel sampah masuk karung. Banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan selama seminggu bekerja bersama si bapak. Untuk pertama kalinya dalam hidup, akhirnya saya merasa hidup saya berguna.

Menjelang lulus SMA, saya selalu berpikir apa yang saya cari nantinya dalam hidup? Apa yg bisa saya lakukan untuk membuat bangga keluarga saya sekaligus dapat berguna untuk sesama? Akhirnya saya memutuskan untuk menjadi dokter, seperti cita – cita awal saya sejak kecil. Ketika kecil saya selalu ditanya orang tua saya, “Kamu ketika besar ingin menjadi orang sukses atau berguna?” Saya selalu menjawab “orang yang sukses!”. Namun, ketika sudah besar, saat orang tua saya berkata “Semoga menjadi dokter yang sukses, Nak!” dengan mantap saya berucap pada mereka, “saya bukan ingin menjadi dokter yang sukses, tapi dokter yang berguna”. Ayah saya pun berkata “Akhirnya kamu tahu maksud kami selama ini. Pilihan menjadi orang berguna memang lebih baik daripada orang sukses. Orang sukses hanya membanggakan dirinya sendiri dan hanya dilihat oleh orang di atas dia, serta dipuja oleh orang di bawahnya. Namun, orang berguna selain membanggakan untuk diri sendiri, tapi juga dihargai oleh orang di atas dan di bawahmu….dan itu lebih bermakna dari sekedar pujaan”.

Ketika lulus SMA, saya melanjutkan kuliah saya di luar negeri. Saya mungkin salah satu yang beruntung karena tidak banyak orang yang bisa seperti saya, dan itu membuat saya lagi-lagi bersyukur. Ketika saya kuliah di luar negeri, saya banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan sosial. Kebetulan pula, saya ditawari lagi untuk bekerja di panti jompo. Tawaran ini berangkat dari sebuah ketidaksengajaan. Saat itu, dalam kondisi saya yang merasa kesepian berada di tempat asing, saya berdoa kepada Tuhan. Tuhan menjawab doa saya dengan memepertemukan saya dengan seseorang. Pada suatu hari saat saya pulang beribadah, ada seorang nenek-nenek terjatuh dan barang bawaannya berhamburan. Saya menolongnya, dan kemudian diajak untuk pergi ke rumahnya. Ternyata yang dimaksud ‘rumah’ itu adalah sebuah panti jompo. Hati saya miris melihat para penghuni panti tersebut. Betapa mereka sebenarnya sangat ingin menghabiskan masa tuanya bersama keluarga, namun mereka justru terdampar di panti jompo. Betapa banyak anak telah melupakan perjuangan orang tua mereka yang telah mengantarkan mereka sampai sukses, dan justru membalasnya dengan mengirim orang tuanya ke panti jompo.   Akhirnya saya ditawari untuk “bekerja” disana. Tidak benar-benar bekerja sebenarnya. Saya hanya menemani opa dan oma disana, mendengarkan cerita mereka, menjadi cucu banyak orang. Ini sangat menyenangkan karena saya merasa mempunyai banyak keluarga di tempat asing. Selain itu juga mengingatkan saya pada kakek nenek saya yang telah meninggal. Setiap pulang kuliah saya langsung ke panti jompo. Setiap hari saya menemani mereka, termasuk ketika makan. Dan jika siang kesana, kami suka berjalan-jalan di taman yang berada tak jauh dari lokasi panti jompo. Ternyata dekat dengan mereka sangat membahagiakan, selain tentunya saya dapat makan gratis setiap hari…hehe. Mendapat banyak keluarga, bisa bercerita banyak, dapat banyak pengalaman juga, juga mendapat banyak terima kasih yang tulus membuat hidup makin ringan dan berarti. Akhirnya saya sadar, semua berbeda ketika saya hanya memberi materi. Mereka mungkin mengucapkan terima kasih, tapi tidak setulus jika kita bisa memberi waktu kita, telinga kita, dan hati kita kepada orang yang benar-benar membutuhkan.

Saya terkadang kecewa dengan banyak orang yang mengukur apa-apa yang ia beri akan berbalik untuk mendapat sekedar materi atau pencitraan. Saya akhirnya berpikir, semua perbuatan memang ada balasannya. Namun jika mereka telah mendapat balasan di bumi, mereka mungkin tidak akan mendapat apa-apa lagi di akhirat. Di negara saya bersekolah, contohnya,  jika kita ingin mendonor darah, itu pun bisa dibayar. Sehingga teman saya terkadang mendonor darah hanya demi uang, yang terkadang uang itu bukan dipakai untuk kebaikan. Ketika saya mendonor darah rutin, saya bertemu dan mengobrol dengan seorang bapak. Dia adalah orang Kenya, namun mendapat kesempatan bekerja di negara tempat saya bersekolah kala itu. Dia bercerita bahwa beberapa tahun lalu hidupnya tidak seberuntung ini. Kira-kira 12 tahun lalu, dia adalah kepala keluarga yang berkekurangan. Bapak ini mempunyai istri dan anak perempuan yang lucu, namun sayangnya anak perempuannya mempunyai masalah ginjal dari lahir. Anaknya yang masih kecil itu harus selalu cuci darah rutin, banyak konsumsi obat – obatan, dan satu – satunya jalan adalah transplantasi ginjal. Namun, di tengah kemelut keuangan, akhirnya ia harus rela kehilangan anaknya ketika berumur 4 tahun. Hebatnya, bapak ini bersyukur, karena dia bisa bersama anaknya lebih lama dari yang ia pikirkan, padahal dokter mengatakan anaknya tidak mungkin hidup lebih dari 2 tahun. Bapak ini berkata, “Setidaknya anakku tahu, orangtuanya telah berjuang untuk dirinya.”    Saat ini bapak tersebut telah memiliki pekerjaan yang memberikan hidup lebih layak dibanding saat di Kenya. Bahkan ia dikaruniai 2 anak sekarang. Belakangan saya tahu, ternyata ia tidak hanya rutin mendonorkan darahnya, namun juga mendonorkan organ tubuhnya. Hal ini juga dilakukan oleh seluruh anggota keluarganya. Dia berkata pada saya, “mungkin dengan cara ini, akan ada banyak orang lain yang bahkan mendapat kesempatan hidup lebih lama”. Akhirnya saya berpikir, dan memutuskan untuk mendaftar menjadi pendonor organ resmi ketika nantinya saya meninggal. Setelah mendapat kartu donor organ internasional, saya berpikir, “Akhirnya saya melakukan hal yang berguna lagi untuk orang lain.”

Kemudian saya mendapat kesempatan untuk menjadi relawan di luar negeri, tepatnya di Vietnam selama 6 bulan dan Kamboja 2 minggu. Di Vietnam, tugas saya adalah bekerja di RS selama 3 hari, menjadi pembantu dokter anak, dan bekerja di panti asuhan 3 hari. Saya bekerja disana bersama anak-anak yang bisa dikatakan tidak sempurna. Banyak dari mereka adalah korban <em>agent orange efek</em>, hasil berperang menggunakan bom oleh leluhurnya dulu. Sungguh miris, saya yang selama ini banyak menghabiskan waktu bekerja dengan banyak orang, namun tidak pernah bertemu dengan kasus yang seperti ini. Anak-anak tersebut sangat susah diatur, banyak yang brutal, tidak bisa mendengar kata orang, juga susah berkomunikasi. Mereka juga sulit menghadapi orang-orang baru. Seminggu pertama saya bagai neraka. Saya berusaha tetap mendekat namun banyak penolakan dari mereka. Saya ingin menyuapi makan tapi malah dilempar. Saya ingin mengajari berhitung, mereka sibuk sendiri. Banyak relawan yang sudah menyerah, bahkan mereka tidak segan memarahi anak-anak ini. Tapi karena memang saya suka anak-anak, saya berusaha mendekati mereka. Data-data mengenai masing-masing anak saya baca: apa yang mereka suka, apa yang mereka benci. Saya pelajari data itu baik-baik, sehingga mereka akhirnya mulai terbuka dengan saya. Ternyata memang benar, kita tidak bisa menghadapi anak dengan kasar, namun harus penuh kesabaran. Akhirnya justru 6 bulan saya disana terasa sangat sempit. Menjelang pulang, saya justru sedih kehilngan mereka. Ketika saya pulang banyak anak-anak yang menangis. Sekali lagi saya merasa hidup saya berguna, khususnya untuk anak-anak ini.

Ketika saya pulang ke indonesia sejenak karena ada yang harus saya urus, saya menemukan satu komunitas (komunitas jendela) yg berlokasi di manggarai. Akhirnya untuk mengisi waktu luang, saya memutuskan menjadi relawan di tempat ini. Saya juga mendapat pelajaran di tempat ini, merasa berguna ketika adik-adik bertanya. Kadang juga sama bagai neraka kalau banyak adik-adik yang tidak bisa dikasih tau. Tapi kembali lagi seperti cara saya sebelumnya, tidak ada yang tidak mungkin kalau kita berusaha. Anak-anak menjadi bandel bukan karena dirinya sendiri ingin, namun karena kurangnya pengarahan. Makanya saya ingin sekali menjadi orang yang berguna untuk orang lain, menjadi sosok yang pernah diingat.   Seperti film yang pernah saya tonton (recommended banget!!), berjudul “Pay It Forward”. Film ini berkisah tentang satu kebaikan tanpa pamrih yang kita berikan pada orang lain,  dengan harapan agar orang yang kita tolong membalas juga dengan memberikan kebaikan untuk orang lain. And it works! Apa yang kita berikan dengan tulus pada satu orang, akan mendorong orang itu untuk memberikan hal yang sama (bahkan lebih) pada orang lain. Betapa hidup ini akan indah dan damai jika banyak orang melakukan kebaikan seperti itu. 😉

Jadi inti dari semuanya adalah, lakukan apa yang ingin kita lakukan untuk sesama. Jangan menunggu kita merasa mampu atau bisa memberikan. Karena kita tidak pernah tau, seberapa berartinya kita untuk orang lain saat ini. Mungkin apa yang kita punya bukan materi, namun waktu yang bisa kita beri pun sangat berguna untuk mereka berbagi masalah yang sedang dihadapi. Ada kalanya saya pun lelah dengan kehidupan saya. Bukan karena tidak bersyukur, namun ketika titik jenuh itu datang, saatnya kita mencari sesuatu yang berguna. Selama ini saya tidak pernah menyumbang materi, kalaupun ada itu pemberian orang tua saya. Namun saya juga bisa seberguna orang tua saya….memberi apa yang saya bisa dengan kemampuan saya sendiri!

 

Ditulis oleh salah seorang relawan Jendela Jakarta.

One Response

  1. Andi Perdana 12/06/2013

Leave a Reply

ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.
ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.