Manisnya Bola-bola Coklat, Manisnya Berbagi

Sabtu 07 Januari 2012, adalah hari sabtu yang sama seperti sabtu yang sebelumnya. Hari yang memberi peluang istirahat bagi mereka yang telah berjibaku dengan aktifitas selama lima hari yang lalu. Hari menjemukan bagi mereka yang bosan pada hiruk pikuk kota Jogja nan padat oleh pelancong di penghujung minggu. Namun bagi mereka yang berbeda, mereka yang kreatif, mereka yang memandang dunia dari sisi seberang, Sabtu adalah hari yang menguras tenaga dan semangat demi menebus kebahagiaan. Mereka adalah relawan Jendela yang di setiap akhir pekan mencurahkan waktu dan tenaganya demi melakukan pendampingan kepada anak-anak penghuni shelter Gondang 1 Cangkringan. Mereka hanya anak-anak muda biasa, sama saja seperti anak-anak muda lainnya tetapi mereka memiliki kemampuan dan keberanian untuk melakukan hal yang luar biasa.

Pagi itu Dani, Tataw, Yusa dan Nanang berkumpul sejenak melakukan diskusi kecil sebelum beranjak pergi ke shelter. Ada beberapa hal yang penting untuk dibicarakan dan akhirnya membuahkan beberapa putusan bagi keberlangsungan komunitas Jendela. Diskusi itu berjalan dengan sangat ringan dan penuh canda tawa. Ya begitulah mereka, mereka yang selalu dapat mengemas keseriusan dengan selubung canda. Tak terasa sayub-sayub suara azan mulai berkumandang, angka pada jam tangan dan matahari yang hampir memuncak diatas kepala memberi tanda bagi mereka untuk segera berangkat. Setelah menunaikan ibadahnya, mereka beranjak menuju ke sebuah apotek di sudut perempatan kentungan jalan kaliurang. Disanalah mereka bertemu dengan kawan-kawan lainnya, Marieke dan Febri untuk berikutnya berangkat bersama-sama menuju shelter. Masih di awal perjalanan laju sepeda motor mereka sempat terhenti sejenak untuk menjemput Mirah di daerah sekitar PLN Bantengan, dan setelah itu lanjutlah perjalanan mereka.

Mereka berangkat berbekal semangat bercampur ketidaksabaran untuk segera beraktifitas dengan anak-anak di shelter. Langit-pun mendukung, tak seperti hari-hari belakangan yang biasanya nampak murung mendung dan bertangiskan hujan mengguyur Jogja dengan volume air yang membanjir. Saat itu langit nampak cerah berseri, sang mentari membagi hangat sinarnya mengiringi perjalanan mereka hingga tiba di shelter. Jam tangan menunjukan pukul setengah dua ketika laju kendaraan mereka terhenti di depan balai anak shleter Gondang 1 Cangkringan.

Balai anak terlihat sepi tak seperti pekan-pekan sebelumnya dimana anak-anak kecil telah menanti kedatangan mereka. Hanya ada Rika yang sedang bermain sendirian di depan rumahnya yang memang berseberangan dengan balai anak. Nanang melempar sapa kepadanya, “kanca-kancamu durung dho bali po? Kene diajaki nggawe kue”. “Uwis kok, lha nggawe kue apa? Diumumke wae mas”, jawaban itu terucap diiringi senyum lugu Rika sembari menghampiri balai. Tak lama berselang datanglah sekelompok anak laki-laki yang dipimpin Irvan, salah satu anak yang selalu bersemangat tiap kali ada kegiatan. Namun itu belum cukup, masih ada anak-anak lain yang belum datang ke balai dan pada akhirnya Dani menyuruh Irvan mengumumkan kegiatan di balai melalui mikropon Masjid. Meskipun tak berhasil dengan sekali berucap, namun tidak begitu sulit membujuknya untuk mau meyiarkan pengumuman. Tak lama terdengar kemudian sayub-sayub kumandang pengumuman yang kira-kira berbunyi seperti ini “teman-teman penghuni shelter 1 diharapkan datang ke balai anak karena akan ada kegiatan membuat kue”. Dan tak lama berselang anak-anak lain mulai berdatangan meramaikan balai anak.

Kegiatan diawali dengan memperkenalkan beberapa relawan yang masih belum dikenal maupun diingat namanya oleh anak-anak disana. Ya, mereka memang belum hafal nama Yusa, mereka hanya hafal bahwa Yusa tidak bisa mengucap huruf ‘R’ dengan benar maka dari itu perlu memperkenalkan kembali Yusa kepada anak-anak dan juga memperkenalkan Mirah serta Febri yang baru pertama kali mengikuti kegiatan komunitas Jendela. Tak lama setelah itu datanglah Galih yang juga akan ikut membantu kegiatan hari itu ditengah-tengah kesibukannya sebagai mahasiswi pascasarjana sekaligus merangkap sebagai asisten dosen. Dan mulailah agenda utama pada hari itu, “cooking without fire” membuat bola-bola kue coklat.


Mereka mulai mengumpulkan anak-anak pada salah satu sudut balai dan membaginya dalam beberapa kelompok, tiap kelompok beranggotakan lima orang, setelah itu anak-anak diminta untuk mencuci tangannya hingga bersih untuk kemudian diselubungi plastik supaya tidak mengotori adonan kue ketika proses pembuatan. Tiap kelompok diberi sebuah baskom sebagai wadah untuk membuat kue. Dan ketika roti tawar beserta biskuit mulai dibagikan mereka langsung berebut untuk menghancurkannya, dan seperti biasa beberapa anak masih menyerukan kalimat “kurang mas, tambah lagi”, ekspresi keserakahan-kah? Bukan, itu bukan ekspresi serakah, melainkan ekspresi semangat mereka yang masih tersisa sangat banyak untuk pekerjaan sekecil itu, meremas lima helai roti tawar hingga hancur. Para relawan Jendela melihat mereka dengan senyum terkembang, momen yang tak kan terbayar dengan berapa-pun jumlah Rupiah. Yusa, Tataw dan Mirah sibuk mengawasi dan memastikan anak-anak melakukan pekerjaannya dengan baik dan benar serta tidak saling berrebut. Dani dengan Marieke berkeliling sambil mengambil gambar dan memantau sejauh mana anak-anak telah melakukan pekerjaannya, sementara Febri dan Galih memastikan plastik di tangan anak-anak dalam keadaan baik dan menyiapkan cadangan plastik apabila ada yang rusak, terkoyak oleh jemari yang beradu kencang meremas roti. Dan Nanang bertugas untuk memastikan anak-anak yang baru datang bisa mendapat kelompok, sekaligus membagikan logistik dengan merata supaya tidak terjadi ketimpangan.


Prosesi pertama selesai, roti dan biskuit telah hancur menghalus akibat tangan-tangan yang penuh semangat dan Dani mulai sibuk berkeliling untuk membagikan susu kental manis bagi campuran adonan. Dan kembali tangan-tangan itu mengaduk adonan agar remah roti bercampur bersenyawa dengan susu coklat. Sempat terdengar suara Febri mengatakan “lho, ojo dijilati”, relawan lain-pun teralih perhatiannya pada kelompok yang diawasi febri, ternyata mereka asik sekali menjailati adonan yang lengket pada plastik dan tentu saja hal itu membuat plastik mereka harus diganti dengan yang baru, alangkah lucunya keluguan anak-anak itu. Proses berikutnya adalah membentuk adonan yang telah tercampur menjadi bulatan-bulatan kecil. Pada mulanya ada beberapa anak yang membuat adonan dengan begitu besar, sebesar genggaman tangan mereka namun akhirnya dapat diyakinkan bahwa adonan yang lebih kecil akan lebih enak dan bisa dibagi untuk lebih banyak orang.

Ternyata aktifitas diluar balai tidak kalah ramai dengan aktifitas didalam balai. Ada trio balita lucu yag sedang bermain-main di serambi balai anak, mereka adalah Muti, Putri dan Aisyah. Melihat ketiga balita tersebut langsung saja Nanang menghampiri mereka dan mengajaknya untk bermain. Awalnya mereka bermain perosotan di tepian parit yang berkontur miring. Memang lebih tepatnya ngesot karena sebenarnya anak-anak itu tidak meluncur melainkan hanya menyeret pantat mereka sepanjang tepian parit sembari berimajainasi sedang bermain perosotan, sungguh lucu dan menggemaskan. Nanang lalu mengajak mereka masuk dan menunjukkan beberapa buku kepada mereka, karena mereka belum bisa membaca dan masih belum paham yang namanya belajar maka mereka bermain tebak-tebakan nama hewan yang ada di buku, setidaknya itu bisa memberi mereka pengetahuan mengenai binatang. Sepertinya Dani mendengar nyaring teriakan balita-balita itu dan mulai menghampiri mereka untuk mengabadikan momen tersebut menggunakan kamera miliknya. Sementara itu Nanang mulai keasyikan bermain dengan ketiga balita itu hingga Jannah kakak Aisyah mendatangai mereka untuk memberikan kue kepada ketiga balita tersebut, sungguh merupakan momen yang sangat manis. Ya, berbagi itu manis. Nanang bertanay kepada ketiga bailta tersebut “enak ora?” dan serentak mereka menjawab dengan suaranya yang kecil nan imut “enyak”.


Proses membuat kue selesai dengan ditaburkannya coklat meises pada bola-bola coklat tersebut. Anak-anak terlihat sangat senang dan tak sabar untuk menikmati manisnya hasil pekerjaan mereka, bahkan ada yang sudah terlanjur dimakan sampai habis ketika akan diajak berfoto. Kali ini para relawan berhasil mengajak anak-anak shelter foto bersama, biasanya beberapa mereka enggan difoto bersama relawan karena malu. Dalam prosesi tersebut Aisyah benar-benar menyita perhatian para relawan, dia berpose dengan sangat menggemaskan, tersenyum manis dengan kedua jadi telunjuk betrengger di kedua pipinya.

Namun aktifitas mereka tidak terhenti disitu, itu hanya gerbang menuju aktifitas yang lebih menguras semangat dan mengencangkan ototo perut akbita tertawa. Setelah beberapa anak membubarkan diri dan kembali pada kegiatannya masing-masing, para relawan dengan beberapa anak duduk-duduk di serambi balai sambil bercengkerama. Anak-anak sangat suka sekali menggoda Yusa dengan memintanya mengucapkan kalimat dengan banyak bunyi ‘R’ didalamnya, seperti “uler mlungker-mlungker diatas pager bunyinya errrrr”, menakut-nakutinya dengan ular bohong-bohongan dan bermain tebak-tebakan “pilih relaksa atau turbo”, dan ketika ketika memilih salah satu anak-anak itu tertawa sendiri tanpa memberitahu apa yang lucu dari hal tersebut. Dan juga gurauan soal pasangan bapak-ibu dan anak dengan sorakan “burung cicuit keselek ehem-ehem” yang menurut mereka itu sangat lucu. Sungguh gaya bercanda anak-anak yang sangat sederhana namun terkadang tidak mudah dipahami oleh orang dewasa.

Sementara itu Mirah menemukan ketertarikannya dengan salah satu grup anak-anak disana, dia sibuk bermain dan berfoto dengan Rika dan kawan-kawan barunya. Dani, Tataw, Galih dan Febri ikut bercanda dengan anak-anak sambil sesekali menimpali candaan anak-anak terhadap Yusa. Sedangkan Marieke dan Nanang asik ngobrol dengan Pak Edi, ketua RSJ (kepanjangan dari Relawan Siaga Jogja, kalau tidak salah) salah satu kelompok relawan yang juga aktif berpartisipasi ketika terjadi bencana erupsi Merapi.

Hari sudah mulai sore ketika mereka memutuskan untuk pulang, tapi relawan-relawan ini tidak bisa berpamitan dengan mudah. harus ada prosesi penyambutan bagi Mirah dan Febri yang baru pertama kali datang ke shelter. Mirah sempat diculik oleh sekelompok anak yang menariknya hingga ke taman bermain di depan gedung PAUD, dan tas Febri-pun disita supaya mereka tetap tinggal disana. Ini adalah kedatangan pertama Mirah dan Febri di shelter dan mungkin itulah cara anak-anak menyambut mereka, mungkin anak-anak itu sudah sangat menyukai Mirah dan Febri dari sejak awal kedatangan mereka. Nanang dan dani menyusul mereka berdua dan membujuk supaya anak-anak itu membebaskan tawanannya dengan sedikit negosiasi yang tidak begitu alot, dan tibalah saat perpisahan. Perpisahan dengan anak-anak shelter selalu disertai lemparan pertanyaan “kapan mrene meneh mbak? Sesuk mrene ora mas?”. Ya, anak-anak itu memang selalu menagih para relawan untuk sering datang dan berkegiatan bersama, tentunya anak-anak itu sangat senang dengan keberadaan para relawan dan kegiatan yang diadakan oleh Komunitas Jendela. Bagi beberapa orang pertanyaan ‘kapan datang kembali’ akan menjadi beban dan tanggungjawab moral, namun bagi relawan Jendela tentunya pertanyaan itu akan memberi motivasi dan semangat yang lebih besar untuk bisa kembali lagi, untuk bermain, dan untuk belajar bersama anak-anak di shelter.

 “Mereka yang masuk ke Jendela itu adalah orang-orang yang luar biasa, soalnya kalau orang biasa pasti masuk lewat pintu” (Prie Chan)

– Nanang Rizki Aprilianto –

Here we are! 

7 Comments

  1. Marisa Latifa 08/01/2012
    • Nanang Rizki 09/01/2012
  2. marieke 09/01/2012
  3. Marisa Latifa 09/01/2012
  4. Prie 14/01/2012
    • nanang 27/01/2012
  5. nanang 27/01/2012

Leave a Reply

ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.
ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.