Nasionalisme di Perbatasan

Judul Film                  : Tanah Surga…Katanya

Sutradara                  : Herwin Novianto

Produksi                    : PT.Demigisela Cita Sinema & PT. Gatot Brajamusti Films

Tayang Perdana        : 11 AGUSTUS 2012

Durasi                        : 90 menit
Di tengah derasnya arus globalisasi yang membanjiri kehidupan kita, filmTanah Surga.. Katanya mampu menghadirkan kesan yang berbeda terhadap era modern saat ini. Berlatar tempat disebuah desa terpencil di perbatasan Indonesia – Malaysia, tepatnya di Pulau Kalimantan. Keberadaan sosok seorang kakek bernama Hasyim, mantan sukarelawan Konfrontasi Indonesia Malaysia pada tahun 1965. Hasyim, tinggal bersama anak laki-laki semata wayangnya yang bernama Haris, serta kedua cucunya yang bernama Salman dan Salina di sebuah rumah tua.

Mirisnya, hidup di perbatasan antara Indonesia dan Malaysia erat kaitannya dengan keterbelakangan dalam pembangunan maupun pendidikan. Bayangkan saja, dalam satu desa, hanya terdapat satu sekolah dasar. Bangunannya pun sangat memprihatinkan, ada satu ruangan yang di belah menjadi dua dengan tripleks sebagai sekatnya. Itulah ruang belajar milik Salman. Buruknya pembangunan dan infrastruktur digambarkan dengan beberapa hal. Dari banyaknya jalan tak berlapis aspal, hingga kurangnya keberadaan fasilitas umum seperti pasar. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi negara tetangga yang serba ada dan berkecukupan. Tak hanya sampai disitu, perekonomian yang lemah seakan memaksa masyarakat untuk dengan sadar menggunakan uang ringgit Malaysia dalam kegiatan mereka sehari-hari, bukan menggunakan uang rupiah yang jelas-jelas adalah mata uang Indonesia.

Semua keterbatasan dan kekurangan masyarakat yang tinggal di perbatasan lambat laun mempengaruhi pola pikir masyarakat kebanyakan. Tak jarang, satu, dua, bahkan sepuluh di antara mereka merasa bahwa melompat ke negeri sebelah merupakan pilihan yang tepat. Tak terkecuali Haris, Ia bersikeras untuk memboyong keluarganya untuk pindah ke Malaysia. Lain orang, lain pula pola pikirnya, Hasyim, kesetiaan dan loyalitasnya pada Indonesia berhasil membuatnya tetap tinggal. Sedangkan Salman, bocah kecil yang sejak dini sudah dikenalkan pada nilai-nilai nasionalisme pun tetap tinggal dengan kakeknya. Lantas Salina, namanya juga bocah, dengan rayuan bertumbal boneka manis, akhirnya Ia turut serta dengan Ayahnya.

Sepeninggal Ayahnya, Salman menjalani rutinitas seperti biasanya. Bersekolah, dengan berguru dengan seorang guru bernama Astuti, Ia adalah guru pendatang dari kota. Tak lama kemudian, datanglah dr. Anwar, seorang dokter muda, karena tidak mampu bersaing sebagai dokter professional di kota alasannya. Dokter intel, begitu sapaan yang diberikan oleh anak-anak.

Hingga tibalah mala petaka itu, sang kakek tercinta jatuh sakit. Oleh karena itulah Salman bertekad untuk berkerja keras demi uang sebesar 400 ringgit guna membawa kakek Hasyim ke rumah sakit. Akhirnya, Salman memberanikan diri untuk bekerja di Malaysia dan kemudian bertemu dengan Salina dan Ayah tercintanya.

Tak Hafal Lagu Indonesia Raya

Terlepas dari itu semua, kondisi nasionalisme di Indonesia semakin memprihatinkan. Lagu Indonesia Raya kalah saing dengan Lagu Kolam Susu milik Koes Ploes. Bahkan anak-anak di desa tersebut banyak yang tidak hafal dengan lagu kebangsannya sendiri. Akhirnya, dr. Anwar beserta Bu Astuti bersikeras untuk mengajarkan Lagu Indonesia Raya kepada anak-anak.

Indonesia Tak Berharga

Setelah dirasa cukup, Salman kembali ke Indonesia. Berbekal dua helai sarung untuk kakek tercintanya, hingga ditemukannya kain merah putih (bendera Indonesia) bertengger di atas dagangan untuk menutupi makanan yang dipanggul seorang pedagang. Disini nampak betapa tak dihargainya, Indonesia. Dengan lembut Salman menegurnya, tapi yang didapatinya hanyalah caci maki. Akhirnya, ditukarkannya dua helai sarung untuk kakeknya dengan sehelai kain merah putih milik pedagang itu. Ia berlari, mengibarkannya, dengan kencang. Ia mencintai Indonesia, sangat.

“Salman, apapun yang terjadi, kamu tidak boleh melupakan Indonesia”

Setibanya Salman di rumah, penyakit kakeknya semakin menjadi-jadi. Hal inilah yang membuat dr. Anwar dan Ibu Astuti bersikeras untuk membawa kakek Salman ke rumah sakit. Namun apa mau dikata, semua terserah Tuhan. Setengah perjalanan di lalui, kakek Salman, Hasyim tak bisa bertahan. Salah satu pesan dari Hasyim kepada Salman adalah, “Salman, apapun yang terjadi, kamu tidak boleh melupakan Indonesia.”. Salman menangis sejadi-jadinya, sebaliknya Haris yang tengah menonton pertandingan sepak bola bersorak sejadi-jadinya atas kemenangan Malaysia terhadap Indonesia. Miris. Setelah Haris mengatahui apa yang terjadi dengn Ayahnya, Ia menangis  dengan penuh penyesalan.

Berbeda halnya dengan film Indonesia lainnya yang lebih menekankan pada kesan glamour dan mewah, film yang satu ini lebih menekankan pada kesederhanaan, loyalitas dan nasionalisme. Film yang diproduseri oleh aktor senior Deddy Mizwar, dan disutradarai oleh Herwin Novianto dan dibintangi oleh Osa Aji Santoso dan Fuad Idris ini berhasil menggugah semangat nasionalisme dengan cara yang menarik dan tidak membosankan. Cerita sederhana, tapi sarat akan makna.

 

review film by : Ryma Aulia

Leave a Reply

ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.
ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.