Nonton Bareng Video dari Papua

Minggu, 25 Desember 2011, kami para volunteer Jendela mengadakan acara nonton bersama di Shelter Gondang 1 Cangkringan. Sehari sebelumnya, saat workshop topeng, saya sempat melemparkan wacana ke anak-anak bahwa besok akan mengadakan nonton film bersama. Mereka sangat antusias. Saat ditanya film apa yang akan diputar, saya balik bertanya “wes tau nonton Denias ra?” (sudah pernah nonton Denias kah?) Mereka dengan serentak bilang “wah…wes bola bali mbak. kerep” (wah, sudah berkali-kali mbak. sering). Dengan segera saya melontarkan kalimat, “kenal mas Arif to? nah, besok kita nonton film e mas Arif aja ya. Film dari Papua”. Tidak disangka animo mereka luar biasa. Ya, mereka rindu. Rindu akan sosok Arif Lukman Hakim 🙂

Kami berjanji pada mereka akan memutar film pada pukul 2 siang. Sampai di shelter,karna satu dan lain hal, yang tadinya saya perkirakan akan sampai pukul 13.30 ternyata baru sampai pada pukul 2 kurang 10 menit. Yang membuat senyum langsung mengembang adalah saat kami sampai di perpustakaan, anak-anak langsung berhamburan keluar dari perpustakaan untuk menyambut kami. Mereka langsung minta agar nonton filmnya pindah ke Balai Desa saja karena kondisi perpustakaan yang tidak kondusif. (setelah terguyur hujan lebat sebelum kami datang, ada beberapa genangan air masuk ke perpustakaan).

Semua alat sudah siap. LCD 18.5”,speaker, peta dunia, leptop, kertas, bolpen. Anak-anak bersemangat untuk segera menyaksikan ‘idola’ mereka di layar. Seperti biasa, gerombolan anak laki-laki duduk paling depan. Sebelum menonton, saya sempat bertanya “hayoo…mas Arif di mana sekarang?” Mereka serentak menjawab, “Papua”. “Ada yang tau dimana letak papua?” Mereka langsung menunjuk salah satu pulau yang ada di Peta Dunia. Sedikit saya memberi intro tentang keberadaan mas Arif dan film pun di mulai.

Banyak pertanyaan dari mereka. Beberapa di antaranya, (bahasa jawa mereka sudah saya translate dan saya sederhanakan) :

 “Mas Arif masih inget dan kenal kita nggak ya?”
 “Di Papua agamanya apa aja ya?”
“Lho. kok pada nggak pake seragam?”
“mbak, mereka nggak pake sepatu? kenapa?”
“nggak ada biaya ya mreka?”
“cuma ada dua ruang kelas dan 2 guru?”
“Mas Arif di sana pake sepatu nggak ya?”
“Pada sikat gigi nggak to di sana? pake apa?” 

Dan masih banyak pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulut mereka. Saya tidak begitu mengingat semuanya. Antara terharu mendengar semua celotehan lugu, polos dan sangat ingin tahu segalanya, atau karna saya sedikit pelupa 😉

Slide yang sudah disiapkan kurang lebih menjawab pertanyaan mereka. Ya, di slide sedikit banyak menunjukan foto-foto Mas Arif yang sedang menjadi pengajar muda di Papua. Apa saja kegiatan beliau di sana, bagaimana wajah-wajah teman baru Papua di sana, bagaimana pengorbanaan ketika hanya ada lilin sebagai penerangan. Tidak hanya itu, di slide juga sengaja meyakinkan adik-adik di Shelter Gondang 1 bahwa Mas Arif tidak pernah melupakan mereka, dengan menampilkan foto-foto saat mas Arif bersama mereka saat di Shelter. Pada akhir slide, tidak lupa kami menyampaikan pesan singkat yang dikirimkan beliau dari Papua.

“ Mas Arif tahu semangat kalian, mas Arif bisa mengerti kemauan kalian yang kuat, rasa ingin tahu yang besar    dan cita-cita kalian yang sangat tinggi. Mas Arif percaya, jika kalian mau belajar dan bekerja keras, maka akan tercapai semua mimpi-mimpi kita.”

Magic. Mereka membaca pesan itu bersama-sama dengan lantang.

Lalu, kami para volunteer membagikan kertas kosong dan bolpen supaya mereka bisa mengirim surat ke Papua. Mereka dengan semangat meminta kertas dan langsung menulis surat. Kami menemani sambil memberikan ide pertanyaan apa saja untuk dikirimkan pada mas Arif. Ada yang bertanya, “mbak, pake bahasa Jawa boleh?”. “Mbak, kalo bahasa inggris boleh? Kalo bahasa inggris ‘untuk’ tu apa? kalo ‘dear’ tu tulisannya gimana?” dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mereka tanyakan pada kami, para volunteer. Ada yang bertanya “Mbak, kalo yang ngirim surat banyak, emangnya sama mas arif bakal bales? Ntar surat ku di bales nggak?”, “Ntar kalo kertas ku ilang gimana mbak?”, “Mbak, kasian mas Arif kalo harus mbalesi semua surat-surat. Capek dong nulisnya”. Ya, itulah bentuk kangen mereka pada idola nya yang sedang jauh di ujung timur Indonesia.

Jujur, saya banyak menjelaskan tentang keadaan mas Arif di Papua pada mereka, padahal kenal saja belum. Saya juga baru pagi ini, sebelum berangkat ke shelter, buka facebook nya dan mengambil foto-foto yang ada di sana. Sambil sesekali membaca caption pada tiap foto. Entah ada ikatan batin seperti apa mas Arif pada anak-anak shelter, mereka begitu sangat merindukan mas Arif (dan satu lagi mas Widodo-semoga tidak salah tulis nama-)

Tulisan ini saya dedikasikan untuk mas Arif dan relawan-relawan lainnya yang dirindukan anak-anak shelter Gondang 1 Cangkringan. Untuk semangatnya yang terlihat tetap membara dari foto dan pesannya yang tidak pernah melupakan anak-anak Shelter Gondang 1 Cangkringan. Semoga semangat untuk membantu mereka yang membutuhkan bisa menular pada kita semua.

Lagi-lagi, let the pics tell us everything 😉

– Apriliana Taurizqi R. –

Berbagai ekspresi terlihat saat melihat video.
Ada yang selalu bertanya, ada yang tertawa, ada pula yang menyembunyikan rasa kangen nya lewat tangis yang ditutupi 😉

Mereka terlihat antusias saat dijelaskan tentang “Surat Sahabat”

Semua berlomba untuk menuliskan surat yang baik dan mengharapkan balasan dari sang idola 🙂


“Appreciation is a wonderful thing.
It makes what is excellent in others belong to us as well.
 ”
~ Voltaire ~

 

One Response

  1. lambang 03/01/2012

Leave a Reply

ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.
ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.