Aku Bernostalgia : Rangkaian Listrik yang Menghangatkan

[Quote of the day]

“Markisa sudah siap disantap. Anak-anak langsung berebut dengan kami para Jendelist, hahaha. Untuk urusan minuman ketika sudah kehausan, kami juga tidak mau kalah”

***

Minggu, 21 Juni 2015

07.00 WIB

Saya terbangun, teringat ini adalah hari Minggu, hari dimana seharusnya saya berbagi di komunitas. Dengan sigap, saya menyiapkan kopi. Lho? Tidak mandi? Belum. Sudah menjadi rutinitas setiap pagi saya harus menikmati minimal dua cangkir kopi untuk menikmati hari. Walaupun tujuan utamanya agar buang air besar saya bisa lancar, hahaha.

Pukul 8 lewat saya sudah rapi, dengan mengenakan celana pendek disertai dengan baju kebesaran ultah komunitas yang ke – 4, saya bergegas memanaskan armada biruku menuju Desa Wisata Turgo di lereng Gunung Merapi. Ah, iya, saya lupa memakai jaket, selain menghindari kulit kering akibat dingin yang cukup menusuk kulit, juga untuk menghangatkan tentunya. Sesampai disana saya dicegat….

Azri       : “Oy oy, anak-anaknya tidak ada,”

Saya      : “Lalu, bagaimana? Libur kegiatan,?”

Firdan   : “Tunggu, Yella sama Gina lagi dijalan menuju kemari,”

Anna     : “Ada Mbak Dara juga nanti, tunggu saja sebentar,”

Ternyata, anak-anak yang paling banyak mengisi kegiatan yaitu dari RT 4 sedang liburan ke pantai, entah ke pantai mana. Wah, saya dan tiga teman relawan yang mencegat saya tadi akhrinya menunggu personil tersisa yang sedang menuju ke Turgo juga.

09.30 WIB

Dua personil yang ditunggu datang, dilanjutkan dengan Gina yang tiba terakhir. Kemudian kami berdiskusi bagaimana kegiatan nanti yang akan berjalan dengan anak-anak yang hanya sedikit. Salah satu teman relawan menginformasikan kalau masih ada beberapa anak yang tidak ke pantai, dan mereka dari RT yang berbeda. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap melanjutkan kegiatan. Ada Dwi, Diaz, Eris (adiknya Diaz), Arum, Ipul, dan Sajid. Sementara enam anak itulah yang mengikuti kegiatan berbagi komunitas kami. Dimulai dengan membaca pada awal kegiatan, saya langsung berteriak“Wih, ada boboy boy!” mereka yang laki-laki langsung berebut ingin membaca majalah yang saya tunjuk tadi. Daripada menganggur, saya dan Jendelist (nama relawan Komunitas Jendela) lain ikut membaca beberapa buku yang kami bawa sendiri.

Ketika membaca itu menimbulkan keheningan namun menambah ilmu

Ditengah asyiknya membaca buku dan majalah, kami dikejutkan dengan datangnya satu relawan lagi yang cukup senior di komunitas kami, yaitu Mas Heri. Tidak lama setelah kedatangan Mas Heri, kami melanjutkan kegiatan dengan merangkai listrik untuk menghidupkan lampu kecil. Cukup ramai, anak-anak bergantian merangkai, menukar-nukar kabel agar lampunya bisa menyala hingga haus menyerang kerongkongan kami. Eris kemudian berseru untuk minta ditemani mencari markisa untuk kita minum bersama nantinya. Ditemani oleh relawan yang perempuan, kami relawan laki-laki tetap melanjutkan kegiatan merangkai listrik.

“Hayoo, itu menyambungkannya salah kabel, Diaz” ujar salah satu jendelist

Akhirnya, markisa sudah siap disantap. Anak-anak langsung berebut dengan kami para Jendelist, hahaha. Untuk urusan minuman ketika sudah kehausan, kami juga tidak mau kalah. Ditambah es batu dan sedikit gula, rasanya saya cukup puas mencicipi empat ciduk markisa. Oh iya, kami menggunakan bongkahan kulit markisanya untuk mengambil markisa dan meminumnya. Ah, rasanya puas sekali kegiatan hari ini. 🙂

Abaikan yang melongo di ujung kanan atas, haha

 

Written by : Zaky Ghozali

*tulisan ini juga dimuat di zakyghozt.blogspot.co.id 

Leave a Reply

ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.
ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.