Resensi Buku : NGUDUD ALA JAWA

“ Ketika tembakau  dan rokok sudah menjadi semacam “kambing hitam” yang harus merelakan dirinya dicap haram…”

resensi-buku-ngudud-ala-jawa

 

Judul buku                              : Ngudud: Cara Orang Jawa Menikmati Hidup

Pengarang                               : Imam Budhi Santosa

Diresensi oleh                         : Abram

Penerbit (edisi cetakan)       : Manasuka Yogyakarta (Cetakan 1)

Tahun terbit                            :November, 2012

Tebal buku                              : 136 Halaman

 

 

Merokok bagi orang jawa sungguh tak ada bedanya dengan rutinitas menikmati suara burung perkutut, minum teh nasgithel dengan gula batu, nglaras uyon-uyon, dan atau memancing di sungai malam-malam. Ya, semua itu adalah upaya menghibur diri, membahagiakan hati, dan mengendurkan ketegangan dalam aktivitas sehari-hari, yang telah menjadi kebiasaan orang Jawa selama ini. Artinya, meskipun hanya dengan rokok murahan, rokok tingwe, atau puntung, masyarakat dari lapisan bawah di Jawa dapat terus berdiri dan mandiri, melupakan sejenak beban hidup yang tak mungkin lagi digambarkan dengan kata dan bahasa. Dari kebiasaan ini pula, mereka mampu terus bertahan dan membangun sejarah di tanah kelahirannya.

Merokok merupakan kebiasan yang mewarnai kehidupan orang Jawa di berbagai lapisan. Tapi, kebiasaan merokok bagi oang Jawa sama sekali bukan sesuatu yang dapat diklaim sebagai gaya hidup otang jawa karena tidak semua orang Jawa ataupun orang yang tinggal di Jawa adalah perokok. Hal ini harus dipahami terlebih dahulu.

Sejak dulu pun banyak keluarga di Jawa yang tidak menyukai rokok atau bahkan sudah mencapai level membencinya. Sebagian dari mereka mayoritas adalah para perempuan. Dalam kehidupan Jawa pun merokok memiliki etika yang perlu diperhatikan. Dalam serat Subasita karangan Ki Padmasusastra dipaparkan bagaimana unggahungguh atau tata cara merokok, misalnya saat bertamu merokok diperbolehkan apabila tuan rumah telah mempersilahkan dan tuan rumah pun merokok terlebih dahulu. Meminta izin kepada perempuan untuk merokok di depan mereka dan atau kepada bukan merokok sungguh tidak etis, bila diizinkan pun perokok harus menjaga agar asap rokok tidak dihembuskan ke arah mereka yang buka perokok.

Dalam buku ini penulis menjelaskan bahwa merokok dalam tradisi jawa memilika etika yang perlu diperhatikan. Etika merokok itu sesungguhnya sudah mulai dianjurkan hampir seabad yang lalu dan mengakar dari generasi ke generasi. Oleh karenanya, rokok sudah menjelma sebagai sedulur sinarawedi dengan etika-etika didalamnya.

Dalam buku ini penulis mencoba mendeskripsikan bahwa peran rokok dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa tidak dapat dihilangkan begitu saja melalui penerbitan UU ataupun PP ataupun fatwa MUI. Tembakau yang diyakini sebagai tanaman impor dari Spanyol atau Portugis, dan budaya merokok yang dibawa oleh Belanda pada jamannya, telah menjadi salah satu argumentasi pembentukan budaya ngudud di kalangan masyarakat Jawa, terutama yang disebut oleh penulis berasal dari kalangan wong cilik. Berbagai pengalaman hidup penulis tentang kebiasaan dan peran rokok dihadirkan dalam buku ini.

Buku ini tidak hanya memaparkan peranan rokok dalam kehidupan atau pun kebiasaan orang Jawa namun juga mengisahkan posisi rokok dalam berbagai tantangan zaman dimana banyak juga yang menentang keberadaan rokok. Buku ini pula menjadi sebuah argumentasi tentang merokok juga merupakan hak dan bagian dari budaya masyarakat

Buku ini sangat direkomendasikan bagi pembaca yang ingin mengenal kebiasaan rokok di kalangan masyarakat jawa. Buku ini meliputi sejarah rokok itu sendiri hingga mendarat di tanah jawa, menjelaskan berbagai tantangan yang terjadi soal rokok di masa kini disertai pemaparan hikmah rokok bagi masyarakat Jawa itu sendiri.

Editor : Doni D.

Leave a Reply

ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.
ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.