Resensi Novel: 23 Episentrum

“…bahagia kan bukan cuma soal uang, dan pilihan hidup itu ngga perlu harus sama dengan orang lain.”

 

resensinovel-episentrum

 

Diresensi oleh           : Niken Larasati

Karya                          : Adenita

Penerbit                     : PT. Grasindo

Cetakan Kedua         : Juli 2012

Tahun Terbit             : 2012

Tebal Buku                : ix + 278 halaman

 

Setelah vakum selama hampir empat tahun karena larut dalam metamorfosis sebagai seorang menjadi istri dan ibu, Adenita kembali berhasil merangkai suatu cerita utuh dalam novel terbarunya yang berjudul 23 Episentrum. Novel pertamanya yang berjudul 9 Matahari telah mengukuhkan namanya sebagai salah satu nominasi Penulis Muda Berbakat Khatulistiwa Literary Awards 2009 dan penerima Penghargaan Duta Bahasa Berprestasi dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat 2010. Karya perdananya kala itu juga menjadi best seller dan dicetak tujuh kali.

23 Episentrum memiliki tema yang masih tidak jauh dari novel pertamanya, yakni perjuangan mewujudkan cita-cita. Namun, pada karya keduanya memberikan sisi yang lebih menarik daripada karya sebelumnya. Adenita merangkum sebuah perjalanan mata, hari dan hati para tokohnya lengkap dengan keyakinan, kerja keras, ketekunan, persahabatan dan bumbu cerita cinta yang cukup manis di sela-selanya. Adenita bahkan mempertegas tema novelnya dengan pemilihan judul, yakni kata ‘Episentrum’ yang berarti titik pada permukaan bumi yang terletak tegak lurus diatas pusat gempa di dalam bumi untuk menggambarkan energi dari para tokoh. Ide dari novel keduanya cukup sederhana, yaitu pekerjaan dan passion. Selain itu, Adenita juga memberikan buku selain 23 Episentrum yang dijadikan satu dalam sampul kuning.

Buku pertama bersampul merah jambu ini adalah novel fiksi dengan tiga tokoh utama bernama Matari atau Tari, Awan dan Prama. Cerita diawali oleh Tari dengan dinamika hidup seorang pekerja di bidang media dan kerja kerasnya. Tari baru saja meraih impiannya menjadi sarjana diantara carut-marut kondisi ekonomi keluarganya dan bertekad mengejar pekerjaan impiannya sedari kecil;  seorang news anchor. Sebelum wisuda, Tari resmi diterima menjadi Televisi Berita (TvB), tetapi bukan sebagai news anchor, namun reporter. Walaupun demikian, Tari tetap menerima keputusan ini demi pelunasan hutang biaya kuliahnya sebesar Rp 55 juta!

Cerita beralih kepada Awan, sahabat Tari yang bekerja sebagai Treasury Finance di sebuah bank. Awan adalah seseorang yang pandai mengatur keuangan dan terlihat sebagai laki-laki yang mapan. Setelah bekerja tiga tahun di bank, Awan merasa ada bekerja di bank bukan pilihan hatinya. Dia memiliki minat yang lain melalui hobinya, yakni penulisan naskah film yang selalu membuatnya bersemangat.

Kemudian Prama, sahabat Awan yang baik hati dan kaya raya. Diumurnya yang muda, Prama telah direkrut oleh perusahaan minyak asal Perancis dan sekaligus disekolahkan S-2 ke Perancis oleh perusahaannya. Tetapi, pencapaiannya selama ini tidak lagi membuatnya bahagia. Dia merasa tidak ada tantangan kerja dan ia merasa terancam dengan posisi nyaman yang tidak akan menjadikannya apa-apa.

Buku kedua adalah bersampul biru sebagai suplemen (tambahan) yang berisi 23 biografi singkat tentang kisah nyata 23 anak muda yang memilih mengejar pekerjaan impian sesuai kata hatinya. Mereka membagikan masing-masing kisah mereka tentang pekerjaan sebagai sebuah ibadah. Bukan hanya sekedar menukar waktu dengan uang. Mereka percaya bahwa sesuatu yang dilakukan dengan hati akan selalu menghasilkan energi bahkan prestasi.

Secara garis besar, novel fiksi Adenita ini cukup mudah ditebak alur ceritanya. Selain itu,  beberapa bagian, bumbu roman yang ingin disajikan Adenita terkesan sangat biasa. Kehadiran buku Suplemen 23 Episentrum juga terkesan biasa sehingga membuat pembaca cepat sekali bosan. Meski demikian, kreatifitas Adenita dapat merangkum realita kehidupan cukup ringan melalui gaya bahasa, pilihan kata yang tepat dan alur cerita cdalam dua buku ini.

Satu paket buku ini cocok bagi yang sedang krisis motivasi atau pun yang masih bingung dengan passion-nya. Adenita cukup berhasil menyajikan rangkaian kata-kata yang memotivasi dan dapat menunjukkan bahwa cerita dalam novel fiksinya bukanlah sekedar omong kosong, dengan memberikan contoh 23 kisah anak muda yang sukses dan berasal dari lintas disiplin ilmu, profesi, dan hobi. Mereka memerdekaan suara hati untuk bebas memilih apa yang dicintai meskipun jauh dari apa yang telah ditekuni selama ini.

Editor: D.Darmasetiadi

Leave a Reply

ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.
ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.