Saudara Baru di Rubaku

[Quote of the day]

“Dan sungguh, mereka benar-benar menjadi saudaraku”

***

Ketika mentari terbit di ufuk timur, aku terdiam dan memandang untuk sesaat; masih setengah sadar, serasa berada di antara awan. Hawa dingin masih terasa, sisa dari hujan semalaman. Ponsel di nakas diraih dan dinyalakan, layar menunjukkan pukul setengah enam, hari Minggu, tanggal delapan Oktober. Dan seketika, aku tekesiap. Sebuah kegiatan yang penting menungguku hari ini dan ketika aku teringat hal itu, awan-awan di dalam kepala menghilang begitu saja. Bersiap dan berbenah diri, kewajiban di Minggu pagi dijalani dan menunggu seorang kawan pukul setengah sembilan, sahabat yang berbaik hati untuk menyelamatkan uang jajanku dan mengantarku bersama ke Rubaku, untuk bertemu adik-adik baru.

Dan sungguh, mereka benar-benar menjadi saudaraku.

Di tengah kegiatan belajar dan bermain mengenai negara-negara di Asia Tenggara, aku mempelajari dan mengingat-ingat nama mereka: Salva yang aktif, Nayla yang penurut, Bilqis yang rajin, Anggun yang cerdik, dan Arjuna -satu-satunya pangeran di sana- si representatif dari matahari itu sendiri. Bagaimana tingkah mereka, bagaimana sifat mereka, cara mereka berbicara, bertanya, dan berkata-kata, aku mempelajari itu semua selama tiga setengah jam berada di sana. Kekhawatiran akan tangisan langit terlupakan dalam benak. Walau tak cerah, titik-titik air segan untuk turun selama anak-anak itu berada di perpustakaan sederhana, tersenyum dan tertawa, membuat kami yang sudah semi-dewasa merasakan kegembiraan yang mungkin terlupa karena jauhnya perantauan.

Hangatnya persaudaraan, hangatnya keluarga.

Kebanggaan seorang kakak yang berhasil membahagiakan adiknya.

Aku membimbing mereka dalam belajar; menghafal nama-nama negara di Asia Tenggara, apa ibu kotanya, apa bahasanya, apa mata uangnya, apa bangunan khasnya dan ketika mereka bertanya lebih dari itu, aku menjawab. Kami semua menjawab. Dan kekaguman dalam mata mereka seakan-akan terpatri dalam kepala, memori indah untuk dilihat kembali ketika malam menjelang.

Permainan mosaik mengajarkan kesabaran dan bersamaan dengan itu, ketenteraman. Gestur hiperbolis dan gelak tawa dikurangi, digantikan kecerrmatan dan ketelitian, hening dan fokus, dan pertanyaan lembut di sana-sini. Namun bukan berarti diam yang benar-benar diam. Si kecil Arjuna tetap tak bisa diam. Termuda di antara yang lain, aku melihatnya bermain kuda lumping dan pecut mainan ketika pertama datang, sesuatu yang sangat jarang kulihat, apalagi di jaman modern seperti sekarang.

Hatiku lega melihat jiwa muda mencintai warisan budaya.

Kesabaran diuji dengan mutiara, kacang hijau, dan teh. Beberapa kesulitan untuk menempelkan tiga benda itu pada gambar icon negara yang ada. Sebagian memilih menyerah dan sebagian terus bertahan hingga akhir. Perhatian mereka yang menyerah tertuju pada daun-daun teh kering, wangi dan ringan dan sangat mudah untuk ditempel. Oleskan lem pada gambar dan taburkan teh, mosaik pun selesai dalam waktu kurang dari tiga menit. Tawa kembali terdengar, baik dari mereka yang masih SD dan yang telah lama tamat SMA. Walau Anggun berkata bahwa mosaik buatannya jelek -dan ia tidak mau membawanya pulang- tapi muka masamnya luntur kurang dari sepuluh detik. Dan aku tahu, semua orang yang ada di situ benar-benar merasa bahagia.

Ketika kegiatan sudah selesai dan tiba saatnya untuk berpamitan, sesuatu menusuk relung hati dan membuatku membeku sesaat. Terlalu cepat. Semuanya berlalu terlalu cepat. Tiga setengah jam sama sekali tidak terasa, tapi langit yang menggelap semakin membujuk untuk berpisah cepat-cepat. Aku memperhatikan mereka satu per satu, mengingat lagi nama dan wajah mereka, dan kembali memasang senyum. Sedih dalam perpisahan memang biasa, tapi aku tidak memiliki alasan untuk berpegang pada emosi itu selamanya.

Lagipula, aku akan segera bertemu dengan mereka lagi di hari Minggu yang akan datang.

 

Written by Vincentia Vanessa Augustine