Curahan Hati : Saya Takut Ditipu Tapi Masih Ingin Menjadi Manusia

[Quote of The Day]

“Apa yang anda lakukan itu pilihan, terpenting jangan biarkan kemanusiaan hilang karena keuntungan pribadi seseorang.”

Saya menyusuri sepanjang kota Yogyakarta sebagai rutinitas dalam beberapa tahun terakhir. Hanya sebatas perjalanan singkat dengan kendaraan pribadi. Seringnya sih sendiri. Ini lagi berusaha nyari yang setia mau boncengin.

Disebut sebagai kota pelajar dan dikenal dengan warga lokalnya yang berbudaya, kota ini bikin saya jatuh hati sebagai pendatang yang niatnya belajar. Karena belajar di “kota Pelajar”, kadang saya bertanya-tanya. Apakah semua  warga lokalnya juga menjadi pelajar? Saat perjalanan menuju institusi  pendidikan maupun saat pulang dan bersosialita, kerap saya menemui anak usia sekolah menjalani aktivitasnya. Wajar kalau mereka berseragam dan bersekolah. Tapi apakah wajar jika alih-alih bersekolah mereka justru jungkir balik (beratraksi) demi recehan? Mungkin pemandangan ini bukan hal tabu yaa. Tapi kalau dipikir lagi ini sebuah ironi yang terjadi tidak hanya di kota berbudaya.

Terpenuhinya hak mendapatkan pendidikan, dahulu kala telah dipikir secara keras oleh penggagas UUD 1945. Berdasarkan pasal 31 disebutkan bahwa   warga negara berhak mendapat dan mengikuti pendidikan dasar,  sedangkan pemerintah wajib membiayainya. Hal tersebut diperjelas dalam setiap ayatnya yang telah diamandemen sebanyak empat kali. Dalam opini saya ini, bukan mengajak para pembaca untuk menghujat pemerintahan atau menjadi netijen nyinyir. Saya ingin menyampaikan sejumput keraguan. Apa yang harus saya lakukan ketika melihat kenyataan ini? Mengapa saya harus memikirkan  anak orang yang memilih hidupnya sebagai penjual koran, pengamen, pengemis dan penghibur jalanan? Toh sebenarnya tanpa mengenyam pendidikan formal mereka bisa belajar baca tulis secara mandiri. Bukankah, pengalaman merupakan guru terbaik, jadi mengapa harus menyuruh bersekolah? Tapi yakinkah kamu kalau ini memang pilihannya sendiri?

Berpenampilan lusuh, tanpa alas kaki dan muka memelas  menjadi ciri khas. Antara kasihan dan muak melihatnya. Sebagai sesama manusia yang sama-sama keluar dari rahim ibu bukan hasil download-an. Saya kasihan. Seumuran itu saya nggak joged-joged di perempatan saat hampir mahgrib. Bermain peruntungan mendapat belas kasih berwujud koin. Saya ikut kontes resmi joged antar anak  warga  kampung Winongo di acara 17an dan dapat gelas. Maksud saya, harusnya mereka nggak  bekerja sekeras itu. Saya muak. Bukan dengan anaknya tapi dengan oknum yang memanfaatkan perasaan sensitif manusia. Mereka cerdas betul memanfaatkannya tanpa sadar  menciptakan mosi tidak percaya dengan hal semacam itu. Sekarang saya sering ragu kalau niat bantu. Takut ditipu. Baca berita pengemis penghasilannya sehari bisa melebihi kiriman bulanan saya. Tapi kenapa mereka bohong memanfaatkan anak-anak? Anak itu berkah Tuhan lo… Harusnya jangan digendong panas-panasan sambil tangan menengadah dan berjalan di setiap sudut jalan. Harusnya bukan dia yang membawa sekeranjang penuh snack yang dijual 10rb rupiah. Sedangkan anda (ibu-ibunya) duduk di pojokan salah satu gedung olah raga sambil menikmati gorengannya Panutan-ku. Harusnya mereka dibesarkan dengan kasih sayang dan bersekolah saat umurnya.

Saya tidak bilang kalau semua yang bersekolah tinggi pasti sukses. Buktinya banyak alumni institusi tinggi jadi pengangguran. Justru yang lulusan SMP bisa jadi mentri hebat sekarang. Tapi tidak berarti anak yang putus / tidak bersekolah harus di-cap sebagai kenelangsaan umat yang menunggu dikasihani kan? Pakdhe Tan Malaka pernah bilang, “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan.” Pendidikan itu perlu dan penting. Nah sekarang saya tanya, sebagai netijen berpendidikan apakah yang akan dilakukan perasaan  halus anda bila melihat  kenyataan tersebut? Saya butuh jawaban karena saya pun bimbang. Mau ngasih tapi kok berarti mendukung eksploitasi pada anak. Kalau nggak ngasih saya sedih. Lucunya banyak orang berpendapat bahwa masyarakat milenial kurang  punya moral luhur untuk mengasihi sesama. Padahal oknum-oknum negatif ini yang membuat keadilan dan semangat tolong-menolong  menjadi tumpul hingga buta. Apa yang anda lakukan itu pilihan, terpenting jangan biarkan kemanusiaan hilang karena keuntungan pribadi seseorang.

Oleh : Zagita

Leave a Reply