Ini Kisah Tentang Gue dan Bantul

[Quote of the day]

Ada satu anak yang berhasil menyusun legonya sesuai batas waktu yang diberikan karena kegigihan, daya juang dan pengorbanannya”

Bantul, 27 November 2016

Hai guys! Pembaca setia web Jendela! Jendela Jogja ada cerita lagi nih, tepatnya pada tanggal 27 november 2016 kemarin. Di mana??? Di Bantul! Berhubung gue adalah seorang Jendelist yang baik dan benar, maka secara sadar dan tanpa paksaan maupun intervensi dari pihak manapun, gue akan menulis kisah Jendela Jogja pada hari ini yap hehehe. Karena eh karena gue baru pertama kali ke Bantul, maksudnya ke desa binaan di Bantul, jadi gue masih cukup awam dalam mengumpulkan anak-anak disini. Oh ya, FYI aja ya bagi kalian yang belum tau, jadi Jendela Jogja tu punya tiga desa binaan (setau gue), yang satu di Bantul, yang kedua di Ngemplak, terus satunya lagi di Turgo. Jadi biasanya gue tu ke Turgo bukan ke Bantull. So, kalo kalian pembaca setia yang tidak mudah berpindah kelain hati dari web ini, kalian pasti taulah cerita legenda tentang desa binaan di Turgo yang judulnya “Curhatan Relawan Semester Akhir” hehehe. Nah itu sangat mewakilkan keadaan di Turgo. Kembali lagi ke cerita Bantul, setelah kita berangkat dari sekre di Ngemplak pada jam 8an (pas briefing sih jam 8 berangkat “katanya” hahaha), setelah kurang lebih 30 menit perjalanan, sampailah kita di Bantul. Perbedaan yang pertama kali gue lihat di Bantul dibandingin di Turgo tuh, kalo di Bantul itu deket pantai kalo di Turgo deket gunung (yaiyalah). Nah jadi setelah kita sampai tu, kita disambut dengan sangat meriah oleh 3 orang Jendelist dan 0 anak-anak huhuhu. Karena kita diajarkan untuk tidak boleh menyalahkan keadaan, jadi dengan wajah sipit-sipit breakfit ini akhirnya kita berpencar mencari anak-anak. Kurang lebih 10 atau 15 atau mungkin 20 menitan akhirnya kita berhasil mengumpulkan sejumlah 8 anak laki-laki di bawah umur, maksudnya anak umur SD hahaha. Karena dirasa masih kurang cukup, maka ibu-ibu darma wanita juga ikut mencari dan alhasil berhasil mengumpulkan 3 anak wanita di bawah umur. Jadi sekarang jumlah anak kecil di bawah umur ada 15 buah, ehh 11 butir deng hehehe.

Kegiatan di Bantul pada pagi hari ini yaitu kita bermain dulu, kalian tau permainan menyusun balok-balok plastik yang ada bintik-bintiknya? Yoi, kita main lego (bukan don lego ya). Jadi permainannya tu sederhana banget sih, anak-anak disuruh menyusun si lego sesuai dengan contoh yang ada dan dikasih waktu, jadi peraturannya itu, barang siapa yang gagal dalam menyusun lego tersebut, maka anak itu kita suruh pulang! Nggak-nggak, masa iya disuruh pulang, jadi kalo mereka nggak bisa, ya gantian maksudnya hehehe.

Menyusun lego ternyata butuh kegigihan.

Menyusun lego ternyata butuh kegigihan.

Singkat kata singkat cerita, anak pertama gagal, anak kedua gagal, anak ketiga gagal, anak keempat dan seterusnya gagal. Kakak Jendelist yang nyusun legonya juga gagal, Pak Dukuhnya gagal, eh nggak sampe Pak Dukuh juga kali hehehe, becanda-bercanda. Jadi, cuma ada satu anak yang berhasil menyusun legonya sesuai batas waktu yang diberikan karena kegigihan, daya juang dan pengorbanannya. Oleh karena itu, kita para Jendelist memberikan penghargaan berupa…. tepuk tangan! Yeey! Setelah kegiatan bermain lego yang sangat melelahkan dan menguras otak (lebay), akhirnya kita bermain bola, tapi itu cuma selingan bukan rencana kegiatan ya, tapi boleh juga sih dijadiin daftar kegiatan hehehe. Nah, kurang lebih 20 menitan main bola, akhirnya kita selesai bermainnya, karena eh karena yang punya bola pulang duluan huhuhu.

Estafet bola : latihan kerja sama

Estafet bola : latihan kerja sama

Nah, sekarang masuklah kita pada kegiatan utama yaitu praktikum!!! Jadi, kita menggunakan lilin, air, gelas bening, piring dan betadine (yang harusnya pewarna makanan). Praktikumnya tu membuktikan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Bukaaann!! Kita membuktikan kalo air itu mengalir dari tekanan rendah ke tekanan tinggi. Kita mulai dengan lilin kita nyalakan, kemudian air kita kasih betadine biar ada warnanya, terus lilin dan air kita taruh di piring dan kita nyalakan lilinnya dengan korek, kemudian tunggu beberapa saat lilin menyala, barulah kita tutup pakai gelas bening, dan lihat reaksinnya. Kalo kalian pada kepo gimana reaksinya silahkan coba sendiri ya hehehe. Setelah percobaan pertama dari kakak Jendelist cukup memuaskan dan membuktikan teorinya maka sekarang giliran anak-anak di bawah umur itu mencoba sendiri praktikumnya dan sebagian besar anak-anak justru menghasilkan reaksi praktikum lebih baik dari kakak-kakak Jendelistnya hehehe. Itu artinya kita berhasil mengajari anak-anak, iya nggak??? Hehe.

Selepas praktikum kami mengajak anak-anak membaca.

Selepas praktikum kami mengajak anak-anak membaca.

Anak-anak memilih sendiri buku yang mereka suka.

Anak-anak memilih sendiri buku yang mereka suka.

Karena sudah cukup bosan dengan praktikum, lanjutlah kita pada kegiatan membaca disana. Sebenernya membacanya nggak terlalu banyak ya, justru ngabisin banyak waktu tu nyari kover bukunya hehehe. Sekitar 40 menitan kita membaca, karena memang sudah cukup lelah dan cukup siang akhirnya anak-anak menjadi tidak terkendali! Haha, bercanda-bercanda. Jadi karena mereka sudah capek membaca, anak-anak malah main tebak-tebakan dan itu justru sangat mengasyikan, karena eh karena kita bisa semakin dekat dengan anak-anak disana, yang tentunya menjalin kedekatan antara Jendelist dengan anak-anak hehehe.

Main tebak-tebakan

Main tebak-tebakan

Tidak terasa, akhirnya adzan Dzuhur berkumandang, artinya waktu kami bersama anak-anak pada hari ini juga harus berakhir. Seperti biasa, kegiatan ditutup dengan foto bersama dan dilanjutkan dengan syawalan (salam-salaman maksudnya). Nah dari cerita di atas makna yang bisa dipetik adalah? hehehe kaya anak SD aja pertanyaannya. Jadi untuk gue yang baru pertama kali ke desa binaan di Bantul, menurut gue pribadi sih, situasi anak-anak di sini sama di Turgo hampir samalah, tapi cuacanya itu loh! Nggak nahan hehehe. Di samping itu gue suka dengan keadaan di Bantul ini, masih berasa ada rasa-rasa pedasaan gitu, dari warganya, jalannya, situasinya dan sebagainya lah. Jadi bagi kalian yang mau datang dan menjadi relawan disini, kalian nggak bakal nyesel datang kesini. Oh iya, kegiatan kita hari ini diliput loh sama anak Sanata Dharma jurusan Sastra Inggris (ada yang cantik mbaknya hehehe). Katanya sih untuk tugas tentang komunitas sosial. Jadi sekian dulu ya cerita mingguan dari kami, Jendela Jogja. Akhir kata, sampai jumpa lagi!!

"Sampai jumpa lagi.."

“Sampai jumpa lagi..”

***

Oleh : Wildan Elsha

 

Leave a Reply

ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.
ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.