Trik Jendelist Jogja Membuat Anak Suka Buku

Kegiatan mingguan Komunitas Jendela umumnya dimaksudkan untuk membuat anak-anak betah berada di lingkungan perpustakaan Jendela. Di balik bentuk kegiatan mingguan yang beragam, agaknya prinsip itu lah yang berlaku umum. Sedangkan secara khusus, ternyata tak hanya itu. Rupanya, selain ingin membuat anak-anak betah di perpustakaan, ada target-target lain yang hendak dicapai pada setiap minggunya. Salah satunya adalah misi edukasi. Dan satu di antara misi edukasi tersebut adalah misi “meng-akrab-kan” anak-anak dengan buku.

Dalam menjalankan “misi meng-akrab-kan” tersebut, ada beragam trik yang pernah dicoba kakak-kakak Jendelist Jogja. Beberapa diselenggarakan untuk memeriahkan dunia baca anak-anak. Beberapa trik diniatkan untuk memantik rasa penasaran anak-anak pada buku. Beberapa lainnya dilangsungkan untuk membiasakan anak-anak dengan aktivitas membaca. Adakalanya tidak hanya membaca buku, melainkan juga berlatih memahami bacaan dari berbagai bentuk teks tertulis. Selama menjadi Jendelist sejak Agustus 2016 silam, ada beberapa trik yang sempat saya catat.

Mari sejenak kita tengok kembali. Siapa tahu bisa menginspirasi.

 

“Baca 3 Buku, Dapat 1 Tiket Nonton Film”

Pernah suatu kali anak-anak ngebut melaporkan judul buku perpustakaan yang telah mereka baca. Pada saat itu perpustakaan baru saja menyiarkan sebuah poster. Di sana anak-anak dijanjikan akan mendapat sebuah tiket menonton film jika tuntas membaca tiga buku. Bukan tiket menonton film di  bioskop komersial ya, hehe, melainkan tiket untuk menonton film di Balai Desa yang akan disulap menjadi sebuah Bioskop Mini.

Alhasil, beberapa anak yang tergiur dengan film yang dijanjikan berebutan melapor lebih dulu. Beberapa anak yang terpengaruh euforia teman-temannya ikut memilih-milih buku untuk dipinjam. Pun anak-anak yang biasanya jarang membaca memaksakan diri memilih buku-buku tipis yang bisa dilahap sekali duduk. Sayangnya masih ada anak yang tidak tertarik.

Tak hanya itu, film yang dipilih adalah sebuah film animasi keluarga yang disertai teks terjemahan. Terselip pula harapan agar anak-anak yang belum lancar mengeja bisa melatih kemampuannya membaca melalui teks film tersebut.

“Jendelist Memadukan Kegiatan Membaca dengan Permainan-Pembelajaran”

Pengalaman membaca dan pengalaman empiris di dunia nyata adalah dua jenis pengalaman yang saling mengisi. Di samping alasan-alasan lain, hal tersebut juga menjadi alasan mengapa komposisi kegiatan mingguan Jendela terdiri dari dua jenis aktivitas tersebut.

Pada setiap kegiatan mingguan, wujudnya bisa macam-macam. Suatu kali anak-anak bisa bermain teka-teki silang (TTS) tentang astronomi. Demi mengisi baris dan kolomnya secara lengkap, anak-anak perlu membaca satu halaman yang mengandung jawaban TTS tersebut terlebih dahulu. Lantas setelah TTS terjawab semua dengan benar, mereka dihadiahi kesempatan untuk mencoba sendiri menerbangkan roket air. Di kesempatan lain, anak-anak bisa melakukan percobaan fisika dan kimia sederhana. Demi mendapat petunjuk dan penjelasan mengenai percobaan yang dilakukan, anak-anak perlu memahami teks yang disediakan.

“Cerita Kartun Kesukaan”

Ada beberapa anak yang rajin sekali bertanya dari Minggu ke Minggu. “Mas, ada buku A? Mbak, Ada buku B?” Buku A dan buku B yang dimaksud adalah tentang serial kartun yang belakangan ini tayang di televisi. Sedangkan pada masa itu catatan di perpustakaan menunjukkan jumlah buku perpustakaan yang dipinjam anak-anak menurun. Sepertinya anak-anak sedang jenuh.

Akhirnya, dengan maksud menarik kembali minat anak-anak, pada suatu sore Jendelist membuat konsep kegiatan mingguan yang berhubungan dengan film kartun yang dimaksud. Salah satu sesinya adalah membaca sebuah teks cerita tentang kartun tersebut. Ada sedikit kejadian konyol pada saat itu. Waktu itu, para Jendelist tak berhasil menemukan bacaan yang berhubungan dengan si kartun di antara koleksi perpustakaan. Alhasil, salah satu Jendelist pun bersedia mengarang cerita khusus untuk kegiatan minggu itu.

Pada hari yang ditunggu, anak-anak yang semula ogah-ogahan akhirnya berhasil membaca hingga tuntas teks cerita tersebut. Bisa tebak apa yang terjadi?

Mereka protes.

Apa pasal? Sebab si kakak Jendelist yang mengarang cerita telah berlaku seenaknya dengan mengacaukan spirit kisah kartun tersebut. Hehehe. (Oke, sesungguhnya saya pelakunya). Tadinya cerita kartun tersebut berkisah di seputar permusuhan dan baku hantam seru antara sekelompok jagoan bumi dengan oknum alien pencuri biji cokelat. Tapi si kakak Jendelist begitu khawatir. Ia takut kisah yang melulu menceritakan pertempuran akan mengilhami anak-anak pada kekerasan. Maka si kakak Jendelist pun memodifikasi ceritanya. Ia mengubah cerita si kartun yang bertabur adegan laga menjadi cerita drama. Di sana dua pihak yang bertikai diceritakan berdamai ketika si alien memutuskan berhenti menjadi penjahat. Anak-anak yang mengharapkan cerita pertempuran seru pun kecewa, haha. Tapi setidaknya, mereka jadi membaca setelah sekian lama.

“Dongeng dari Buku”

Konon, dunia anak adalah dunia bertabur imajinasi. Salah satu imajinasi tentang buku adalah membayangkan tokoh-tokoh fiktif dari buku keluar ke dunia nyata. Lalu melakonkan sendiri kisah mereka kepada pembaca.

Barangkali kakak-kakak Jendelist terinspirasi oleh hal tersebut ketika menyelenggarakan kegiatan mingguan bertema dongeng. Waktu itu anak-anak diajak membuat “wayang-wayangan” berbentuk karakter dari buku dongeng. Mereka diajak memilih karakter masing-masing lalu melakonkan ceritanya di panggung yang disediakan kakak Jendelist di Balai Desa.

Dengan begitu,  jadi lah mereka jelmaan tokoh-tokoh fiksi yang beraksi di panggung fantasi. Ternyata membaca buku bisa menjadi se-“nyata” ini!

“Jendelist Menemani Anak-Anak Membaca”

Nampaknya ini adalah trik yang paling sering dilakukan kakak-kakak Jendelist. Di awal kegiatan mingguan yang memerlukan gerak motorik dan kerja fisik yang aktif, biasanya anak-anak dan kakak-kakak Jendelist duduk lesehan beramai-ramai di lantai sambil membaca buku. Saking seringnya, nyaris terasa seperti ritual tersendiri untuk mengawali kegiatan mingguan. Mereka duduk melingkar dan buku-buku diletakkan di tengah seperti hidangan makan yang siap dipilih.

Pada sesi ini, tidak jarang anak-anak yang belum lancar membaca meminta seorang kakak Jendelist untuk menemaninya. Bahkan anak-anak yang sama sekali belum bisa membaca juga bergabung dan minta dibacakan.

Agaknya trik ini menjadi trik yang paling sering dilakukan karena untuk melakukannya tidak memerlukan persiapan teknis yang ribet. Membaca ya membaca. Tidak banyak pernak-perniknya. Yang diperlukan cuma buku, permukaan cukup bersih yang bisa diduduki, dan ketulusan hati untuk menemani. Sedap

Nah, itu lah beberapa trik Jendelist Jogja yang sempat saya catat. Tentunya masih ada cara-cara lain yang bisa jadi lebih efektif nan lebih asyik. Hanya soal waktu sampai trik-trik lainnya bermunculan. Tentu beberapa trik mungkin berhasil untuk beberapa anak dan mungkin kurang berhasil untuk beberapa anak lain. Barangkali itu pula sebabnya mengapa kegiatan Jendela mesti berlangsung rutin secara mingguan. Yaitu agar para Jendelist-nya bisa punya lebih banyak waktu untuk mengenal keunikan setiap anak dan pada akhirnya punya lebih banyak waktu untuk menemukan kiat paling pas mengenalkan anak-anak pada apa artinya membaca buku.

Selamat berjuang lagi!

 [t.a.p]

Leave a Reply