Volunteer VS Kekeluargaan

[Quote of the day]

Saya percaya bahwa : kebahagiaan itu tidak tergantung dari seberapa besar yang bisa kita dapatkan, tapi tergantung dari seberapa besar yang bisa kita berikan.”

***

Volunteer atau disebut juga relawan, identik dengan komunitas, salah satunya komunitas sosial. Hal ini tak lepas dari tujuan komunitas sosial tersebut yang ingin memberi dan berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Tujuan dari komunitas sosial tidak akan tercapai jika tidak dibarengi dengan tujuan yang sama dari para anggotanya, yaitu ingin memberi dan berbagi bukan untuk mendapatkan sesuatu untuk kepentingan pribadi. Berbagi ada bermacam-macam, mulai dari berbagi materi, waktu, tenaga atau pun pemikiran. Oleh karenanya, itulah mengapa anggota komunitas sosial sering disebut volunteer atau relawan, dimana arti dari volunteer atau relawan sendiri adalah seseorang yang melakukan sesuatu secara sukarela (KBBI). Begitu pula dengan saya ketika ingin bergabung dengan komunitas sosial, dalam hal ini adalah Komunitas Jendela Jogja. Saya ingin memberi dan berbagi sesuatu yang bermanfaat bagi sesama yang membutuhkan, khususnya anak-anak. Saya percaya bahwa : kebahagiaan itu tidak tergantung dari seberapa besar yang bisa kita dapatkan, tapi tergantung dari seberapa besar yang bisa kita berikan.

Untuk memudahkan dan mempercepat tercapainya tujuan, sebuah komunitas sosial biasanya membuat kelompok-kelompok atau divisi dimana setiap divisi memiliki tugas berbeda tetapi tetap pada tujuan yang sama. Namun karena dilakukan secara sukarela, volunteer seringkali datang dan pergi tidak menentu. Hal ini membuat salah satu atau beberapa divisi tidak berjalan dengan semestinya sehingga tujuan dari komunitas sulit dicapai. Atas dasar inilah sistem kekeluargaan paling cocok diterapkan di sebuah komunitas sosial. Kekeluargaan bisa diartikan sebagai sekumpulan orang layaknya keluarga dimana saling mengenal, mengerti dan peduli. Seorang volunteer pasti mempunyai rasa peduli yang tinggi karena tidak mungkin secara sukarela mau berbagi kepada sesama yang membutuhkan jika tidak didasari oleh rasa peduli. Sebuah ironi jika seseorang bisa peduli pada sesama yang membutuhkan tetapi tidak peduli kepada teman-teman di sekitarnya. Rasa peduli inilah yang bisa menciptakan keadaan saling membantu dan menguatkan antara volunteer satu dengan volunteer lainnya. Inilah yang disebut dengan social capital, kekuatan saling menguatkan antara individu satu dengan individu lainnya sehingga setiap individu bisa memberikan kemampuan terbaiknya.

Dengan kekeluargaan pula, seorang volunteer bisa melakukan kegiatan atau program sosial dengan rasa senang dan tulus karena mereka melakukannya bersama orang-orang terdekatnya yang mereka anggap keluarga sendiri. Bagi saya volunteer sejati akan menganggap dirinya bukan volunteer karena rasa tulusnya mereka merasa belum melakukan apa-apa. Hal inilah yang memotivasi mereka untuk berbagi lebih banyak lagi.

Written by : Muhammad Firdan Azhari

Leave a Reply

ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.
ARE YOU READY? GET IT NOW!
Increase more than 500% of Email Subscribers!
Your Information will never be shared with any third party.