Bahagiamu Tujuanku

Hari Minggu, tepatnya tanggal 8 Maret 2020, kedua kalinya saya mendatangi rumah baca. Untuk sebagian orang hal itu merupakan rutinitas untuk memenuhi panggilan hati. Mungkin tidak semua orang bisa merasakan. Akan tetapi, rumah baca merupakan naungan untuk berbagai kalangan menyampaikan serta menebarkan ilmu yang dimiliki.

Agenda yang dilakukan dimulai pukul 10.00 WIB, mengawali pagi dengan berdoa bersama dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lalu, dilanjutkan dengan ice breaking yang diisi oleh tarian dari lagu Aram Zam-Zam dan Gummy Bear. Sorak bahagia dan antusias adik-adik yang menari dalam mengikuti irama musik.

Selesai ice breaking, kegiatan selanjutnya ialah membaca buku. Adik-adik yang ada di sana memiliki usia yang beragam. Sehingga, kami perlu memantau dan mengetahui kemampuan yang ada pada diri mereka masing-masing. Mulai dari pemahaman dasar seperti membaca. Mereka yang belum lancar dibantu untuk mendalami ketertarikan mereka dalam membaca. Keingintahuan mereka yang besar, membuat kami berusaha untuk memperkaya wawasan mereka terkait warna, huruf, angka, serta imajinasi dan kreativitas mereka dalam bentuk positif.

Sesi yang paling menarik yaitu pada saat memberikan media pembelajaran kepada adik-adik. Pada kesempatan kali ini, kami menyampaikan pembelajaran tentang wayang berhitung dan bangun datar, sempoa kardus, papan hitung, mengenal organ tubuh, dan proses terjadinya hujan (siklus hidrologi). Pada saat penyampaian media berlangsung, gemuruh riuh antusias adik-adik memenuhi isi ruangan sebagai tanda ketertarikan pada media pembelajaran tersebut.

Dengan segala keterbatasan yang ada, mereka sangat antusias untuk mengenal hal baru. Keceriaan, ketulusan mereka menularkan kepada kami yang hanyut dalam dunia mereka. Terlebih lagi pada pembelajaran siklus hidrologi. Terlihat keingintahuan mereka yang cukup besar membuat kami tertantang untuk merangkul mereka agar paham. Meskipun di awal sempat malu-malu, namun perlahan mereka berani mengungkapkan pendapat. Sehingga keseruan menyelimuti dengan diiringi canda tawa sampai waktu yang diberikan telah usai.

Ini merupakan penyembuhan bagi kami yang penat, memberikan ruang jeda pada diri sendiri untuk membuka diri kepada mereka yang lucu. Kehangatan yang terselimuti membuat saya merasa nyaman dan bersyukur. Bahwa, melihat mereka berlarian dengan senyum merekah adalah hal yang dicari selama ini. Sederhananya saja, aku, kamu, dan kita bahagia melihat adik-adik bahagia.

(**)

Leave a Reply