Balada Pisang Goreng dan Rindu yang Sedikit Terobati

Menghayati kegiatan Jendela Jogja kali ini mirip seperti sensasi ketika akhirnya mendengar rilisan baru band favoritmu yang telah lama vakum. Kamu cukup terhibur, meskipun rilisan tersebut hanyalah daur ulang dari karya lama mereka.  

Sebagaimana rencana band favoritmu, Jendela Jogja pun bermaksud membuat semacam pengobat rindu.  Supaya orang-orang ingat mengapa komunitas ini perlu ada.   Dengan demikian masa liburan pun telah usai. Tepat pada tanggal 21 Juli 2019 dan minggu-minggu setelahnya kami sepakat untuk berkegiatan lagi.

Sesuai rencana, kami berkumpul di Sekretariat Jendela Jogja di Karangjati, Ngemplak sekitar pukul 08.30 ketika matahari baru naik. Kami berangkat pukul 09.00 WIB saat matahari bisa membuat sekumpulan sapi di tanah lapang kepanasan. Rencana kami hari ini adalah membawa beberapa buku dari Sekretariat dan menukarnya dengan buku-buku di Perpustakaan Jetis, kemudian lanjut membawa buku dari Jetis tadi dan menukarnya dengan buku-buku di Perpustakaan Ambarketawang. Buku hasil pertukaran terakhir tersebut lantas akan dibawa kembali ke Sekretariat. Begitulah cara kerja program sirkulasi buku yang kami jalankan belakangan ini.

Perpustakaan Jetis berada di tengah kota, daerah urban dengan pembangunan padat. Sepanjang perjalanan pemandangan yang tampak adalah jalanan beraspal dan beraneka bangunan hunian, fasilitas umum, dan bangunan komersial  yang berebut ruang di sepanjang jalan. Buku-buku kami di Jetis berada di dalam sebuah pesantren. Sebab salah satu pertimbangan saat memilih tempat untuk sirkulasi buku adalah ada tidaknya pihak yang bisa diajak bekerja sama. Kebetulan pesantren ternyata cukup banyak dan terletak di wilayah yang membutuhkan asupan suplai buku.

Perpustakaan di pesantren ini dijaga oleh seorang ibu yang sebenarnya cukup ramah namun tak banyak bicara. Beliau hanya menjawab dan bertutur sedikit panjang saat kami bertanya. Kami bersyukur karena kata beliau anak-anak pesantren cukup aktif memanfaatkan koleksi buku di Perpus.

Menjelang tengah hari, matahari sudah semakin naik ketika kami melanjutkan perjalanan ke Perpustakaan Ambarketawang. Berbeda dengan Jetis, Ambarketawang merupakan daerah rural dengan banyak pepohonan di kiri-kanan jalan. Jalanan di sana pun belum semuanya beraspal. Ditambah lagi kita harus melewati jalan menanjak yang sedikit berbatu dan berpasir. Maka perjalanan ke Perpustakaan Ambarketawang pun menjadi cukup menantang. Kendaraan kami yang biasa melintas di jalanan kota ditantang untuk beradaptasi. Bukan hanya kendaraan, bahkan tubuh kami yang lebih sering dipakai rebahan pun menunjukkan respon pergulatannya dengan medan yang kami hadapi. Bikin pegal-pegal, Bung dan Nona.

Di Ambarketawang buku-buku kami juga dijaga oleh pihak pesantren. Mereka memiliki fasilitas semacam bangunan padepokan tanpa selubung. Bangunan tersebut terdiri dari lantai dan atap yang disangga tiang-tiang. Fasilitas inilah yang oleh pesantren dijadikan perpustakaan. Kami membayangkan betapa nyamannya membaca buku di sini ditemani hembusan angin sepoi-sepoi.

Ibu penjaga perpustakaan sempat menyuguhkan teh hangat untuk kami. Salah seorang dari kami lantas berbisik tentang gorengan dan betapa nikmatnya bila suguhan teh bersanding dengan jajanan berminyak itu. Entah ibu perpus mendengarnya atau ikatan batin kami memang kuat, tak lama kemudian datanglah suguhan sepiring pisang goreng hangat dari Ibu perpus. Kami nyengir kegirangan. Antara senang sebab ada pisang goreng di hadapan dan malu karena khawatir celetukan tadi terdengar.

Menurut cerita Ibu perpus di Ambarketawang, koleksi buku tidak hanya dimanfaatkan oleh anak-anak pesantren, tapi juga oleh anak-anak yang tinggal di sekitar. Beberapa waktu yang lalu bahkan pihak pesantren sempat mengadakan acara yang dihadiri sekitar 80 anak. Kami merasa senang dan lega mengetahui hal itu. Setidaknya buku-buku yang kami bawa tidak hanya menjadi pajangan pelengkap dekorasi ataupun formalitas citra gerakan meningkatkan literasi semata.

Hal yang kami lakukan di setiap perpustakaan saat sirkulasi sebenarnya tak banyak. Pekerjaan kami adalah mengemas koleksi lama perpustakaan ke dalam tas, mencatat kode-kode buku tersebut, mendata buku-buku yang belum dikembalikan, kemudian menata buku-buku yang baru kami bawa. Pekerjaan tersebut bahkan sebenarnya tak membutuhkan banyak tenaga. Sehingga seringkali saat relawan lain bekerja, beberapa relawan lainnya hanya kebagian bengong atau melakukan tugas dokumentasi. Kalau tak pandai menghibur diri, kegiatan ini sesungguhnya sungguh-sungguh ngeboseni. Krik krik dan membosankan, wahai Bung dan Nona. Tak heran bila selama kegiatan berlangsung sering muncul obrolan-obrolan iseng tentang relawan yang baru saja putus hubungan sampai relawan yang akan segera menikah.

Menjelang pukul 12.00 WIB, di tengah hari yang terik, kami pulang. Selepas pamit dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu penjaga perpustakaan, kami bergerak ke haluan masing-masing. Ada yang segera pulang, ada pula yang makan siang bersama.

Sebagaimana menikmati rilisan baru band favoritmu yang telah lama vakum, kegiatan Jendela Jogja kali ini setidaknya bisa sedikit mengobati rindu. Namun analogi ini tidak persis sama. Bila rilisan band favoritmu itu ternyata jelek, kamu bisa kecewa. Sudah sekian lama menunggu tapi “Aih, kok segini aja?” Kegiatan Jendela Jogja tentu tak seperti itu. Kegiatan Jendela bukan jenis hal yang bisa kamu kutuk karena tak memenuhi ekspektasimu. Sebab baik buruknya ia adalah hal yang kamu upayakan secara aktif. Ia bukan jenis hal yang kamu tunggu secara pasif, seperti halnya menunggu karya orang lain. Ia adalah “karyamu”. (Teguh J.)

Leave a Reply