Gelap Terang Sekretariat Jendela Jogja dalam Ingatan #Bagian 1

(Kunjungan NET TV di Sekretariat Komunitas Jendela Jogja, 22 Februari 2017)

Bagi saya cara kerja ingatan selamanya akan misterius. Ingatan muncul sekelebat. Melompat-lompat dari satu peristiwa yang amat lampau sampai ke peristiwa yang masih segar dalam urutan yang tak beraturan. Mungkin tatanannya yang acak dalam kepala membuat ingatan−bahkan yang paling lampau sekalipun−bisa terasa seolah baru kemarin kejadiannya. Itulah yang saya rasakan saat mengingat kunjungan pertama sebagai relawan baru ke Sekretariat Komunitas Jendela Jogja di Ngemplak, Karangjati tiga tahun lalu.

Saat itu sore hari di bulan Agustus yang semarak. Setelah berputar-putar berdasarkan sebuah peta yang tak akurat, akhirnya saya tiba juga di Sekretariat Komunitas Jendela Jogja untuk pertama kalinya. Ternyata tempat tersebut tak lain adalah rumah kontrakan berukuran sedang yang dipasangi sebuah banner putih, lengkap dengan logo Komunitas Jendela Jogja yang dicetak besar. Di depan pintunya terserak beraneka macam bentuk dan warna sendal. Saya langsung menebak tumpukan sendal tersebut adalah milik para relawan.

Di rumah kontrakan tersebut, ada dua ruangan yang biasanya difungsikan sebagai tempat berdiskusi karena ukurannya yang relatif lebih luas dibandingkan ruangan lain. Ruangan tersebut adalah ruang depan dan ruang tengah. Ruang depan juga difungsikan sebagai perpustakaan dan tempat bermain anak. Sedangkan ruang tengah menampung seperangkat komputer. Sore itu para relawan yang hadir membuat  kedua ruangan tersebut penuh. Belakangan setelah melalui tiga tahun bersama komunitas ini, saya sadar bahwa pada tahun berikutnya setiap kali agenda serupa diadakan, jumlah relawan yang datang tak pernah lagi seramai dahulu.

Awal Mula Menjadi Sekretariat

Dari ingatan para relawan lama, dulu sebelum punya sekretariat, mereka pernah beberapa kali berganti tempat berkumpul dan menyimpan barang. Untuk menyimpan barang, sejumlah relawan berbagi peran menampung barang-barang Jendela di tempat tinggal masing-masing. Sedangkan untuk berkumpul membahas kegiatan, umumnya mereka menumpang di kafe, gerai makan cepat saji, atau di kontrakan salah satu relawan.

 “Dulu kami pernah sampai ditegur oleh pegawainya karena yang dateng banyak, tapi yang pesan makanan cuma satu,” kata seorang relawan sambil tertawa mengenang masa-masa nomaden itu. Pada saat itu mereka ingin sekali punya tempat sendiri yang bukan hanya bisa dipakai untuk rapat dan menyimpan barang, tetapi juga sebagai shelter dan rumah kedua bagi para relawan.

Beruntung beberapa relawan Jendela saat itu sedang menyewa sebuah rumah kontrakan bersama di tepi selokan di Ngemplak, Karangjati. Dengan harga sewa yang terjangkau dan lokasi yang dekat dengan pusat kota, akhirnya Jendela pun resmi ikut menyewa sebuah kamar di rumah tersebut. Jendela menyewa kamar paling belakang untuk dijadikan gudang. Namun atas kesepakatan seluruh penghuni (yang mayoritas adalah relawan Jendela), Jendela juga diizinkan menggunakan ruangan paling luas di rumah itu−yang aslinya adalah fasilitas bersama−untuk dijadikan perpustakaan. Ruangan itulah yang kemudian menjadi Perpus Ngemplak yang selama ini kita kenal.

Sebuah banner putih dengan logo Komunitas Jendela Jogja yang dicetak besarpun dipasang di depan rumah. Sebagai penanda bahwa sejak saat itu, bagi para relawan, rumah kontrakan tersebut bukan lagi rumah kontrakan biasa. Sebab tempat itu akan menjelma menjadi saksi segala dinamika, riuh gemuruh, dan poros rotasi di mana segala cerita tentang Komunitas Jendela Jogja berebut ruang di kepala kita.

Bersambung…

Penulis: Teguh Arya Pamungkas

One Response

  1. Mas Jek 14/09/2019

Leave a Reply