Kikis Cyber Bullying pada Anak Mulai dari Jari Kita

Dampak yang terjadi akibat cyber bullying antara lain yaitu rendahnya kepercayaan diri anak, membentuk  pribadi yang penakut, penyendiri bahkan dapat menimbulkan keinginan bunuh diri pada anak.

***

Netijen bijak nggak cuma bayar pajak. Peduli itu beda dengan memaki. Istilah cyber bullying tentunya nggak asing buat kita. Mungkin kita pernah jadi korban atau justru yang melakukan. Asik sih berjelajah di dunia maya.  Kita bebas beraspirasi, berkreasi bahkan berindustri. Tapi, dampaknya itu yang nyerimin kalau tidak diimbangi dengan ketabahan hati yang ekstra sekaligus filter yang kokoh. Cyber bullying adalah tindakan kekerasan dan intimidasi melalui internet yang dilakukan  antar anak berusia di bawah 18 tahun. Bentuk dari cyber bullying dapat berupa pernyataan kasar berisi hinaan, cacian, serta ejekan atau bahkan penyebarluasan foto aib dan rahasia. Apabila pelaku dan korban (atau salah satunya) telah berusia di atas 18 tahun sudah bukan cyber bullying lagi tapi tergolong cyber harassment.

Nah kalau kita yang  udah dewasa ngelakuin berarti kita bukan pelaku cyber bullying dong. Terus apa peran kita? Orang dewasa adalah cerminan untuk anak-anak di sekitarnya. Dalam konteks sederhana peran ini bukan hanya dibebankan pada keluarga inti yaitu bapak dan ibu akan tetapi juga kita. Jadi, apa yang kita ketik dengan maksud bercanda atau hanya terseret arus netijen lain itu dapat dicontoh oleh anak-anak. Karena pada hakikatnya anak kecil itu pengen dewasa dengan cepat sedangkan kadang kita berperilaku seperti anak-anak. Mereka menganggap kita keren karena kita dewasa  dan menjadikan sebagai panutan.  Kamu banggakah kalau jadi panutan yang salah? Malu. Harusnya malu.

Seperti ketika kita naik motor di kala deras tanpa jas hujan. Bermula dari dibiarkan saja toh udah mau dekat rumahnya. Terus berujung basah kuyup. Sebenarnya sih jas hujannya dalam jok, tapi males berhenti untuk sekedar peduli pada kesehatan diri. Membiarkan hujan yang mulanya rintik menjadi lebat sehingga dingin pun terasa dan akhirnya demam sesudahnya. Kadang kita tidak peduli dengan hal-hal kecil hingga kepedulian kita yang ikut mengecil. Sebenarnya, semua anak punya “jas hujan” masing-masing untuk menghindarkan diri dari hal-hal negatif. Tapi tidak dipakai, karena mereka masih merasa aman dan tidak tau apa yang akan terjadi. Di umur segitu pastinya pikirannya masih terlalu sederhana. Nah justru kita yang sudah mampu berpikiran lebih kompleks dan mungkin tau apa dampak yang akan terjadi ke depannya, justru membiarkan hal ini terus berlarut.

Coba deh kita pinjamkan “jas hujan ” kita, kita coba melindungi mereka dari jarak jauh semampu kita. Berhenti ikutan nyebarin berita yang akhirnya berujung mala. Gemes sih, kok anak kecil udah kayak gitu. Jaman dulu kita mungkin nggak berani berekspresi seperti itu atau berkelakuan yang melenceng norma sefrontal sekarang. Tapi apa bedanya kita sama anak kecil kalau kita malah bikin itu tersebar ke mana-mana. Cukup berhenti di kita aja. Gak perlu di-share, gak perlu ikutan komen. Toh kita bukan cyber crime police yang bisa mutusin itu salah atau tidak. Apa yang kita ketik di media sosial dan dibaca anak yang masih labil akan membekas dan berpengaruh pada masa depannya.

Ya mereka memang salah tapi kita ikutan salah kalau makin memperkeruh suasana. Apalagi biasanya kalau gregetan komenan kita jadi absurd cenderung ke kasar. Nyebutin nama-nama hewan lah, organ reproduksi lah bahkan kadang nge-tag mantan (kalau ini mah modus buat balikan). Kalau miris bukan gini caranya. Kita bantu yang bisa dijangkau. Sebarin virus kasih sayang dan kepedulian pada anak di sekitar kita. Coba dengarkan meskipun itu hal sepele. Nah kalau yang udah viral dan salah terus gimana? Yaudah biarin aja biar yang mengurus dari pihak keluarga dan yang berwenang. Toh kita komen sebijak apapun nggak bakal dibaca yang baiknya sama mereka, karena udah kadung sakit hati sama kalimat kasar yang lain. Cyber bulying pada anak bukan bahan guyonan lo gaes. Beneran ini, aku aja udah mulai mau bertekad insaf ikutan komen gak jelas di postingan seperti itu. Masih ragu buat ikut peduli dengan mengubah kebiasaan nggak penting itu? Ini beberapa dampak yang terjadi akibat cyber bullying antara lain yaitu rendahnya kepercayaan diri anak, membentuk  pribadi yang penakut, penyendiri bahkan dapat menimbulkan keinginan bunuh diri pada anak. Bayangkan saja yang mengalaminya adalah orang terdekat. Jangan biarkan dirimu sendiri yang menyesal.

Gagasan ini saya renungi setelah mengikuti diskusi inspiratif yang digagas oleh Padepokan Asa Wedomartani. Judulnya “Cyber Bullying terhadap anak dan Dampaknya”. Narasumbernya berasal dari tiga komunitas keren peduli anak yaitu komunitas Ibu Peduli Bullying (Danarti Tri Wardani), Coin a Chance (Wening Fikriyati), dan komunitas Kagem Jogja  (Susi Farid). Terimakasih kesempatannya sehingga saya sudah yakin bahwa apabila anak berkelakuan melenceng norma bukan hanya salah anaknya. Tapi salah keluarga dan orang sekitarnya juga.

 

Dipandu kak Uta, the one and olnly bapak yang membantu para narasumber hebat menyampaikan materi bermanfaatnya.

Kami menyuarakan anti kekerasan pada anak lewat salam tiga jari

Oleh: Zagita

Leave a Reply