Pembelajaran Kehidupan

Tak menyangkal kalau hidup memang harus berproses. Adik-adik belajar kepada kami, sebaliknya, kamipun banyak belajar dari mereka. Pagi itu sekitar pukul 09:45, adalah pertama kalinya saya bertemu adik-adik di rumah baca. Mereka begitu antusias dan bersemangat, senyum ramah selalu mereka berikan di setiap kegiatan. Kegiatan pertama adalah ice breaking, kemudian dilanjutkan dengan membaca buku, setelah itu belajar formal dan non-formal.


Dalam setiap kegiatan yang kami jalani bersama waktu seperti hal yang hampir tak pernah kami perhitungkan. Sungguh mengasyikkan belajar bersama adik-adik di rumah baca. Bukan hanya mereka yang mendapatkan pembelajaran, tapi kami sebagai kakak-kakak relawan juga banyak belajar dari adik-adik. Dimulai dari bagaimana caranya melihat kehidupan dari kaca mata mereka, belajar untuk lebih bersyukur walaupun dengan keterbatasan mereka, juga saya seperti menemukan dunia baru di sana. Yang awalnya saya orangnya acuh tak acuh, kini lebih merasa untuk selalu peka terhadap lingkungan. Sampai akhirnya saya berpikir, “mungkin salah satu cara memahami manusia adalah dengan kita peduli”.

Merangkul adik-adik memang butuh perhatian khusus agar mereka tetap nyaman dengan suasana belajar, karena setiap individu pasti memiliki karakter juga tingkat kognisi yang berbeda-beda. Ada yang cepat untuk menangkap apa yang diajarkan dan ada pula yang sedikit sulit untuk memahami pelajaran. Tapi itulah yang namanya manusia, perbedaan itu wajar. Karena perbedaan pula yang mengajarkan kita lebih bisa mengahargai juga memahami orang lain. Sesekali juga saya berinteraksi dengan adik-adik, dengan hanya menanyakan, “Rumahnya di mana?, “Datang dengan siapa?”, “Bagaimana perasaannya setelah belajar?”. Karena dengan bertanya tentang situasi-situasi sosial bisa melatih mereka dalam kecakapan sosial kognitifnya

Saya sangat berterima kasih kepada Komunitas Jendela Lampung atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk selalu menebarkan kebaikan.

Salam hangat dari saya, Dio M

Leave a Reply